Jun 21, 2011

Timor: Where Has All the Aid Gone?

Money has been pouring into Timor-Leste, but it has not translated into meaningful development.

By Guteriano Neves
Timor-Leste farmer bundles crops destroyed by 2010 downpours; photo courtesy of the UNWhen Indonesia withdrew from Timor-Leste (TL) in 1999, governments all over the world expressed their sympathy for the Timorese. Donor governments promised to assist TL to build a viable state, with lasting peace and stability. Early on, the United States also committed to help TL move toward a democratic society. Secretary of State Hillary Clinton recently reiterated this commitment in her meeting with TL’s Prime Minister Xanana Gusmao. The United States, she said, wants “to continue to provide U.S. support for this incredibly important transition and transformation.” Timorese, who have suffered from Indonesian military occupation and the double standards of the United States and other Western countries for 24 years, listened very carefully to this political rhetoric, hoping that the future of the children would be better.
After 11 years, the rhetoric is still the same. But the reality on the ground has not changed much.

Jun 20, 2011

Partido DEMOCRÁTICO (PD) Iha Dever no Responsabilidade Moral atu Valoriza FRETILIN-Movimento Libertasaun Nasional


Hosi : Victor Tavares*



Partido Democrático nu’udar forsa politika ida iha nasaun RDTL, ne’ebe konstitui hosi militantes no simpatizantes no mos povu eleitores PD nian, em jeral ho nian background maioritariamente ema hosi rezistensia, iha nian dever no responsabilidade moral atu hahii aas valores istorikus hotu iha prosesu libertasaun nasional, em particular PD valoriza no hatur aas movimento libertasaun nasional.

Ne’eduni, mais que justa, lider maximu PD Senhor Fernando La Sama de Araújo, ho apoio tomak hosi diresaun nasional Partido Democrático nian, hanoin, tetu no ho konsiensia tomak atu fo omenajem boot ba erois matebian sira ne’ebe mate tanba konsekuensia hosi movimentu libertasaun nasional ne’e rasik.

Basaa, FRETILIN-Movimentu ne’e patrimoniu istoriku luta ba independensia nasaun no povu Timor-Leste tomak nian. FRETILIN-Movimentu la’os propriedade ema ida ka rua nian, la’os grupu A ka grupu B nian, maibe ne’e instrumentu luta ema barak nian. Ema barak mate iha Movimentu Libertasaun Nasional nian laran tanba hamahon an iha movimentu ne’e nian okos hodi defende ukun rasik an.


Jun 19, 2011

Israel and Timor-Leste

Amira Arnon
Ambassador of Israel to Timor-Leste

A lot in Common

The first breathtaking view which unfolded to my eyes from above, while still on the plane to Dili, was the white, beautiful and untouched beaches. I could not wait for the opportunity to enjoy those beaches and to touch the deep blue water of pacific. In deed, on my first visit to Timor-Leste I took a swim among corals and the little colourful fish, in the warm and crystal clear waters of the Pacific Ocean. No doubt, this is one of the advantageous adventure Timor-Leste has to offer foreign investors who are searching for new potential Pacific resorts and hideaways for tourists.


Kita Adalah Embun di Bawah Matahari

Monika Nia Liman
Monika Nia Liman
“Aku tak akan meninggalkanmu,” katamu setiap kali kita menyudahi percumbuan. Aku tertawa. Sebab aku tak percaya. Sebab kau laki-laki. Sebab kau kira perempuan selalu senang digombali.
“Kau bohong!” kataku melepas pelukanmu. “Kau hanya mempermainkanku.”
“Aku tak memaksamu untuk mempercayaiku. Tapi aku sayang padamu,” kau remas jemariku seperti memelas kepercayaan. Aku tertawa lagi.
“Ahh. Kau tak benar-benar sayang padaku. Kau hanya datang padaku di sisa waktumu. Aku ini hanya sebuah dermaga kecil tempat kau menambatkan kelelahan hiruk-pikuk hidupmu.”

Jun 17, 2011

Suatu Malam di Jakarta

Jalan menuju bandara Soekarno-Hatta
Saya tidak tahu-menahu ini jalan apa dan itu jalan siapa. Semua begitu asing bagiku di perjalanan malam itu. Tiba-tiba supir taxi mengatakan bahwa jalan menuju Mall Ambassador macet total. Saya terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, apakah jalan benar-benar macet ataukah supir taxi memainkan aksinya karena mengetahui saya tidak tahu apa-apa soal Jakarta. 

Tanpa saya meminta, supir taxi menawarkan untuk menurunkan aku di Plaza Semanggi, yang menurut pak supir juga sangat lengkap, tidak kalah dari Mall Ambassador. Saya ragu, tetapi tidak nampak keraguanku. Saya lebih memilih kembali ke hotel Atlantic tempat aku menginap, tetapi saya sudah tidak punya uang rupiah, dari mana untuk membayar taxi dan bagaimana biaya transport besok pagi-pagi buta ke bandara. Sementara pulsa mobile aku zero, bagaimana bisa memanggil temanku. Malam kian larut. Aaah ini supir taxi pandai beraksi, pikirku dalam hati. 

Life Work Balance (Sebuah Motivasi)

"The only people that you really have, that I learned, are your family, because they love you no matter what"
Miley Cyrus

Suatu hari Dody yang tengah menanjak karirnya tetapi merasa hidup ini tidak bahagia. Istrinya sering mengomel-ngomel karena merasa keluarga tidak pernah ada lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari Dody sebagai suami juga seorang Ayah. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, pun saat merenung bagi dirinya sendiri semuanya menjadi hilang.

Kata Mutiara Cinta

Entah suka datang menghiasi hari
Atau duka yang menghampiri
Cinta adalah berbagi
Karena sungguh ....
Meski disemayamkan dalam dua raga
Sepasang kekasih hanya punya satu hati

===o0o===

Jun 16, 2011

TIMOR-LESTE: On the way up but still a long way to go

BANGKOK, 16 June 2011 (IRIN) - As one of the fastest growing economies in the world, with a stable political system and improving education infrastructure, Timor-Leste is gradually raising its profile in the region, leaders say. 

The fledgling nation’s candidacy for the 10-member Association for Southeast Asian Nations (ASEAN) marks a milestone in its post-conflict recovery, but widespread social issues continue to hamper a country still recovering from decades of Indonesian rule. “We have made tremendous progress in the past nine years of our independence since 2002. The country today is at peace as never before,” President Jose Manuel Ramos-Horta told IRIN. “We are on the right track, and when we join ASEAN, I am certain that we will be an asset, and not a burden.” 


Jun 15, 2011

Timor-Leste: Rekonsiliasaun no Fila Hikas Mai husi Indonézia

The full report is available in  English.

Status ne’ebé seidauk rezolvidu husi eis refujiadu rihun ba rihun ne’ebé mak halai sai hodi hakur fronteira depoizde votasaun ida ba independénsia nian iha tinan 1999 sei sai nafatin nu’udár dezafiu ida ba Timor-Leste nia estabilidade prazu naruk nian. Sira barak mak nunka konsege integradu didi’ak ba iha komunidade lokál nia laran no fila hikas ona liuhosi fronteira iha númeru ne’ebé ki’ik maibé aumenta ba beibeik iha relasaun ho estabilidade ekonómiku no polítika nian iha estadu foun ne’e nia laran. Repatriasaun hirak-ne’e tenke enkorraja husi nasaun rua ne’e nu’udár oportunidade di’ak ida atu promove rekonsiliasaun entre komunidade rua ne’ebé mak haketak husi fronteira. Hodi halo ida-ne’e sei hatudu kustu sira husi impunidade ba violénsia ne’ebé mak akontese durante referendu tinan 1999 nian no mós realsa fallansu atu implementa rekomendasaun prátika sira ne’ebé mak mai husi ninia komisaun rua, CAVR no Komisaun ba Verdade no Amizade nian. Timor-Leste nia lideransa bele desidi katak forma balun husi amnestia nian mak meiu ne’ebé di’akliu ba oin nian, maibé nasaun ne’e labele ona atu atraza tán diskusaun ne’ebé luan kona-bá solusaun sira.


Timor-Leste: Rekonsiliasi Dan Kepulangan Dari Indonesia


The full report is available in  English.

Status menggantung dari ribuan eks pengungsi yang keluar Timor-Leste dan menetap di Indonesia setelah referendum tahun 1999 masih menjadi tantangan bagi stabilitas jangka panjang negara asal mereka. Banyak dari pengungsi ini tidak dapat berbaur dengan masyarakat setempat dan sejumlah kecil yang angkanya terus meningkat tertarik untuk pulang ke Timor-Leste yang situasi ekonomi dan keamanannya mulai relatif stabil. 
Kepulangan mereka ini seharusnya didukung oleh pemerintah Timor-Leste maupun Indonesia sebagai kesempatan bagus untuk memajukan rekonsiliasi diantara kedua masyarakat yang dipisahkan oleh perbatasan itu. Apabila ini terjadi, harga impunitas yang harus ditanggung atas kekerasan yang melingkupi jajak pendapat tahun 1999 akan terungkap dan kegagalan dalam mengimplementasikan rekomendasi-rekomendasi praktis dari kedua komisi kebenarannya, yaitu Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi atau CAVR serta Komisi Kebenaran dan Persahabatan atau KKP, akan tersorot. Para pemimpin Timor-Leste mungkin belum memutuskan untuk memberi semacam amnesti sebagai jalan keluar yang terbaik, tapi negara ini tidak bisa terus menunda pembahasan mengenai solusi atas persoalan ini.

Jun 13, 2011

ENOUGH IS ENOUGH!

BY JOSH TRINDADE

I was given a form by one of the Government agencies all in Portuguese. I didn’t understand how to fill it. Then, I've exploded. Furious! Angry!

How come I don't understand my official language in my own country? It’s not that I am stupid. It’s not that I don’t want to learn the language.

It is that the official language was chosen to favour an elite, just a few and to discriminate the majority of normal Timorese, like me, who was educated during the Indonesian time.

THE FORCING OF THE PORTUGUESE LANGUANGE IS AN IMPEDIMENT FOR THE YOUNG TIMORESE

BY JOSÉ KAI LEKKE SOUSA-SANTOS

The forcing of the Portuguese language on Timor is an impediment for the majority of young Timorese, Timorese studied during the occupation, who finished or are undergoing tertiary study in Indonesia.

They are forced to learn a whole new foreign language if they want to continue their studies or even work for the government in their own country.

Just For You (Afternoon Joke)


Pada suatu sore yang indah, para 'cleaners' bercerita ramai di sebuh sudut dekat toilet. Ada yang serius berbagi cerita, ada yang serius mendengarkan, ada yang senyum malu-malu, ada-ada saja. Angelina hanya diam di sudut itu, dia masih marah dengan kejadian pagi tadi, akhirnya dia mau bercerita juga. 


Jun 9, 2011

Beatification of John Paul II - Miracle Picture

We don't know why John Paul II wanted to hide this picture for years. The Vatican published this picture recently, for first time. This picture was taken by one of his security guards just when the Pope was attacked and was falling down in his Papamobil. You can see the pain in his face.

Nós não sabemos por que João Paulo II quis esconder essa imagem durante anos. O Vaticano publicou esta foto recentemente, pela primeira vez. Esta foto foi tirada por um de seus guardas de segurança apenas quando o Papa foi atacado e foi caindo em sua Papamobil. Você pode ver a dor em seu rosto.


Jun 7, 2011

Kisah Tepi Jurang (1) - Percakapan Orang Penting

Ini cerita tentang sebuah kedai kopi yang kosong di pinggiran pulau terpinggir dari Indonesia. Beberapa orang hebat tiba-tiba saja bertemu untuk sekadar bersenda-gurau di sana. Yesus Kristus (yang juga dikenal dengan Isa Al Masih) sambil menyerutup kopi mulai mengajak Nabi Muhammad, Sidharta Gautama dan Musa untuk mengelilingi satu-satunya meja di kedai kopi tersebut.


Bahaya Laten Soehartoisme

Sebelum KANGEN itu Membunuh

Panik. Mungkin ini sedikit tepat menggambarkan suasana Indonesia saat ini di tengah berbagai gejolak ekonomi dan politik yang tiada bertepi. Reformasi yang dilahirkan paksa dan prematur akhirnya membentuk sebuah kubangan yang kian besar. Reformasi seperti ini juga yang melahirkan perkawinan tak senonoh antara generasi pembaru dan mereka yang bergantung mutlak pada konservatisme, status quo ante dan kebiadaban yang tak disadari. Radikalisme yang sebenarnya mutlak diperlukan ketika menyusur tengahan 1998 ternyata digembosi oleh dedengkot-dedengkot Orde Baru yang otomatis akan mempertahankan warna khas Soeharto.

Kepanikan di antara memilih Revolusi atau Reformasi ketika itu akhirnya menyudutkan bangsa ini kepada pembiakan semakin banyak generasi yang terdistorsi oleh kooptasi kekuasaan tunggal. Di level ini saja secara umum Reformasi sudah ‘gagal’ apalagi dalam praksis menjalankan tata pemerintahan yang kritis. Mentalitas kultus menjadi warna tunggal birokrat yang diisi oleh kroni-kroni tak kompeten dan legislator yang lebih banyak hanya menjadi kelompok oligarkis, yang sudah pasti melulu mendahulukan kepentingan kelompok dan massa penjilat mereka.

Jun 6, 2011

Xanana Gusmao: ‘Ahmadinejad’ dari Timor Leste?

Sebelas tahun lepas berpisah dari Indonesia, Timor Leste termasuk yang tak pernah selamat dari pedang kritik bangsa-bangsa yang menganggap diri lebih beradab, maju dan tahu banyak soal demokrasi dan nasib bangsa lain. Tapi di sana, ada Perdana Menteri Xanana Gusmao dan untuk itu, orang Timor Leste nampaknya patut bersyukur.


Di Dili awal pekan lalu, tepat di hari kemerdekaan, dia berbicara tentang sesuatu yang menjadikan negaranya sukar dipandang sebelah mata lagi; sebuah suara kritis yang mungkin mengingatkan orang pada nada-nada perlawanan atas ketidakadilan global yang kerap terdengar dari sosok Mahmoud Ahmadinejad di Iran dan Hugo Chaves di Venezuela.


Kata Kantor Berita AFP, Xanana melepas kritik bersulfur pada Persatuan Bangsa-Bangsa dan pada unit kerja badan dunia itu di Timor Leste yang menurutnya telah “menginjak-injak kedaulatan negara”. Sebelumnya, dalam sebuah dokumen yang kemudian bocor di media, unit kerja PBB di Timor Leste mengkritik kepemimpinan Xanana, menyebutnya sebagai “penghambat” gerak maju “demokrasi”.


Kata Xanana, justru PBB lah yang semestinya memperbaiki diri.


Dari 2000 hingga 2008, katanya, “komunitas internasional” telah membelanjakan US$ 8 miliar di Timor Leste yang luasnya tak seberapa. Hasilnya: “tak ada pembangunan fisik yang berarti dan kemiskinan justru kian menjadi.”


Mari Pulang, Belum Terlambat!

BERSAHABAT dengan TEKNOLOGI [JANGAN SALING MENAKLUKKAN!]

Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay


Pernahkah anda berpikir sejenak untuk kembali ke dekade sebelum 1990-an? Masa di mana gejolak komunikasi virtual dan digital belum merebak. Masa di mana tulisan tangan, surat yang dikirim via pos, ucapan-ucapan pada peristiwa dan perayaan besar terasa asli dan alami. Masa di mana rutinitas harian tidak terganggu oleh bunyi dering dan getaran benda-benda super modern, kecil namun isinya seluruh dunia.

Yah, mada itu telah lewat, bahkan tidak lagi memiliki tempat yang utuh di ingatan apalagi kerinduan. Masa komunikasi asli yang mungkin saja merupakan titik tertinggi komunikasi antar-manusia. Jaman itu, orang bisa menghabiskan sepiring nasinya plus segelas teh mungkin tanpa diganggu dering gadget. Rasa nasi nikmat dan sempurna. Tidur malam menjadi penuh tanpa panggilan masuk apalagi dari sales kartu kredit yang menawarkan jasa layanan dengan keuntungan bla bla bla.

Jun 1, 2011

Esperanças Rasgadas - Xanana Gusmão (Poema)



Timor
Jazigo de uma alma
Que não pereceu
Nas névoas
De uma história que se perdeu
Na distância das lendas

Tukar Guling Oecussi-Belu Hak Pusat

Tukar guling wilayah enclave di Distrik Oecussi, Timor Leste dengan kabupaten Belu merupakan hak pemerintah pusat. Pendapat itu agak sulit dilakukan karena Oecussi memiliki sejarah kehadiran Portugis yang sulit dilupakan.