Jan 14, 2011

Kaos Kaki Untuk Kesehatan Sempurna


Produk inovatif yang dirancang dengan teknologi revolusioner Jepang, yang bekerja sebagai bahan antibakteri dan sangat baik untuk menjaga kesehatan kaki.
Terbuat dari kain katun yang berkualitas tinggi, sehingga membuat rasa nyaman di kulit kaki dan dapat menyerap keringat dengan baik. Serat anti kuman dibuat dari bahan elastis dari Jepang mempunyai kemampuan untuk membunuh bakteri-bakteri berbahaya dan menghambat pertumbuhan bakteri disekitarnya.

http://s.wiggle.co.uk/images/x-bionix-socks-zoom.jpg

Membantu menghilangkan bau kaki dan mengurangi gatal di kaki yang disebabkan oleh aktivitas bakteri.
Ia juga sangat tahan lusu sehingga dapat tahan lama. Serat anti kuman juga memperbaiki sirkulasi udara di dalam kaos kaki, sehingga kulit kaki tidak lembab dan berkeringat, membuat anda lebih bersih dan leluasa.
  
Sangat baik untuk kesehatan, dimana memancarkan sinar inframerah jauh dan Bio-energi bermanfaat :
  • Membantu melancarkan aliran darah, menyehatkan kulit kaki, dan membantu menghilangkan bau yang tidak enak di kaki.
  • Bio energi yang terkandung didalamnya memancarkan ion negatif yang dapat menembus ke dalam pori-pori kulit kaki dan bekerja pada saraf di kaki, membantu memberikan efek ketenangan.
  • Membantu menggiatkan kerja saraf organ tubuh melalui titik akupuntur di telapak kaki dalam membantu mengurangi efek pegal linu dan melegakan kekejangan otot-otot kaki.
Kaos kaki yang dapat digunakan setiap hari dan sangat efektif untuk membantu melegakan saraf kaki anda dan menjaga kesehatan kaki anda. Selain itu dapat dicuci dengan sabun cair, namun tidak dengan detergent.

Anda bisa pesan produk ini melalui:
Wilayah Timor Leste : +670-7295192
Wilayah Nusa Tenggara Timur: minggus81@yahoo.co.id
Wilayah Jakarta : +6281384010594

sumber: K-LINK International

Jan 12, 2011

blog orang kampung: Gila Gelar di NTT

blog orang kampung: Gila Gelar di NTT: "Hampir setiap hari saya membaca paling sedikit lima surat kabar terbitan Surabaya dan Jakarta. Kadang-kadang juga membaca koran berbahasa ..."

4 Negera Produk Herbal Terbesar di Dunia Tahun 2011


4 Negera Produk Herbal Terbesar di Dunia Tahun 2011
Herbal merupakan bahan utama dalam obat tradisional adalah herbal. Badan kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan obat tradisional sebagai obat asli di suatu negara yang digunakan secara turun-temurun di negara itu atau negara lain. Obat tradisional harus memenuhi kriteria antara lain sudah digunakan minimal tiga generasi dan telah terbukti aman dan bermanfaat.
Secara umum ada beberapa negara utama di dunia yang menjadi gudangnya herbal.Herbal merupakan bahan utama dalam obat tradisional adalah herbal. Badan kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan obat tradisional sebagai obat asli di suatu negara yang digunakan secara turun-temurun di negara itu atau negara lain. Obat tradisional harus memenuhi kriteria antara lain sudah digunakan minimal tiga generasi dan telah terbukti aman dan bermanfaat.
1. Cina
WHO mencatat, 30-50 persen konsumsi kesehatan masyarakat di negara ini dialokasikan untuk ramuan herbal. Sejak 5.000 tahun silam, nenek moyang bangsa Cina meramu obat untuk mengatasi beragam penyakit.
Catatan medis tertua ada dalam dua kitab kuno: Huang Di Nei Jing (Kitab Kaisar Kuning) dan Wai Tai Mi Yao (Resep Rahasia). Isinya cara menyembuhkan gangguan pencernaan, pernapasan, dan sistem reproduksi.
Kitab tua yang paling terkenal adalah Kompendium Materia Media, yang diterbitkan pada tahun 1590. Buku yang ditulis oleh Li Shizhen dan diteruskan oleh Zhan Xueim ini memuat 1.892 zat medis yang berguna dalam dunia pengobatan.
Dari kitab-kitab tua itulah Cina membangun peradaban herbalnya, yang sekarang sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Perkembangan pengobatan tradisional di negara ini relatif maju karena pemerintahnya mendukung penuh.
2. India
Ayurveda atau ilmu tentang kehidupan adalah sistem holistik kuno untuk mendiagnosis serta mengobati, sudah ada sejak 1.000 SM di India. Ayurveda mungkin merupakan sistem kedokteran tertua yang dikenal manusia.
Ayurveda mementingkan konsep keseimbangan energi, kesatuan tubuh, pikiran, dan roh. Ada 8 cabang ayurveda, yakni kayacikitsa (penyakit dalam), salyacikitsa (anatomi dan bedah), salakyacikitsa (penyakit THT dan mata), kaumarabhryta (tulang), bhutavidya (healing), aganda tantra (toksikologi), rasayana (rejuvenasi), vajikarana (afrodisiak untuk laki-laki).
3. Korea
Pengobatan tradisional di negeri ginseng tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Cina dan India. Sistem pengobatan tradisional di Korea dikenal dengan nama Korean Oriental Medicine (KOM) atau lebih populer dengan sebutan hangbang.
Walau mendapt pengaruh besar dari pengobatan Cina, tetapi hangbang mengembangkan teknik khusus yang bersifat khas. Teknik-teknik itu adalah aturan pengobatan sasang (sasang constitutional medicine), Saam Scupunture, Herbal Acupunture, dan Korean Hand Acupunture. Perkembangan KOM terlihat dari banyaknya sekolah lanjutan tinggi yang khusus mempelejarinya. Tak heran jika di Korea mudah dijumpai dokter dan apoteker khusus KOM.
4. Indonesia
Jika menyebut herbal, Indonesia adalah salah satu laboratorium tanaman obat terbesar di dunia. Sekitar 80 persen herbal dunia tumbuh di negeri ini. Indonesia memiliki sekitar 35 ribu jenis tumbuhan tingkat tinggi, 3.500 di antaranya dilaporkan sebagai tumbuhan obat.
Nenek moyang kita memanfaatkan flora kekayaan alam itu dengan cerdas. Dikenal istilah jamu untuk menyebut ramuan dari tanaman obat. Jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno, jampi atau usodo. Artinya penyembuhan menggunakan ramuan, doa, dan ajian.
Pemanfaatan ramuan alam untuk tujuan kesehatan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Tabib dan pengobat tradisional meracik aneka jenis tanaman menjadi penawar. penyakit. Bukti-bukti pemakaian jamu di masa lalu bisa dilihat dari tulisan-tulisan di daun lontar, prasasti, dan relief candi.

Ayurvedic atau Ayurverda Pengobatan Kuno dari India


AYURVEDA atau AYURVEDIC adalah suatu pengobatan kuno yang berasal dari India yang meliputi seluruh aspek gaya hidup. Kata Ayurveda berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ayur --hidup, dan veda ---pengetahuan, atau secara harafiah berarti pengetahuan tentang kehidupan. Merupakan salah satu metode pengobatan tertua yang pernah dicatat dan masih digunakan hingga saat ini.

Menurut Ayurveda, setiap orang memiliki energi kehidupan (Doshas), yang terdiri dari Vata atau udara, Pitta atau panas, dan Kapha atau air. Penyakit terjadi jika ke-3 elemen ini tidak seimbang. Lingkungan, polusi udara, makanan, minuman, dan faktor genetik dapat menyebabkan ketidak-seimbangan doshas. Menjaga keseimbangan doshas ini adalah kunci dari pengobatan Ayurveda.

http://unik.supericsun.com/wp-content/uploads/2010/03/1bc7a1c2c5urveda.jpg.jpg

Ayurveda bekerja secara menyeluruh, tidak hanya menghilangkan gejala yang timbul, tetapi juga bekerja mencegah penyakit dan menghilangkan akar penyakit. Ayurveda menggunakan seluruh sumber kekayaan alam untuk membantu meningkatkan kualitas kesehatan manusia.

Saat ini dimana teknologi kedokteran sedang berkembang dengan pesat, seperti dengan adanya terapi gen, bedah sinar laser, alat deteksi teknologi tinggi seperti CT-Scan, USG, Rontgen, namun pengobatan alami juga mengalami kemajuan yang luar biasa. Tidak hanya di negara-negara berkembang, di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, pola hidup kebali ke alam, juga sedang menjadi tren, dimana pengobatan herbal juga saling melengkapi dengan pengobatan kimiawi.

Kini telah banyak dokter yang tertarik untuk mencoba pengobatan holistic, suatu bentuk yang melibatkan kondisi tubuh, mental, sosial lingkungan dan bahkan hingga dimensi spiritual yang akan mengungkapkan faktor-faktor yang memicu suatu penyakit. Nutrisi yang baik dan seimbang serta olahraga teratur menjadi sangat penting bagi pengobatan holistik. Tetapi kestabilan emosi dan spiritual juga harus diperhatikan sehingga kondisi yang optimal akan tercipta. Terapi alternatif difokuskan untuk meningkatkan proses penyembuhan sendiri, untuk memperbaiki keselarasan antara gerak tubuh dan elemen biokimia dari tubuh, pikiran dan emosi.

http://ayushayurvedic.com/images/home.jpg

PENCEGAHAN VS PENGOBATAN

Saat ini pendekatan pengobatan tidak bisa dihindari, karena ketika kita sakit kita baru mengupayakan pengobatan. Padahal ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan dari sekedar mengatasi gejala yang timbul, yaitu menjaga agar tubuh tetap sehat, tidak sakit, kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tidak terganggu.

Aspek dalam pengobatan :

* Ketika kita sakit, kita kemudian ke dokter yang kemudian akan segera berusaha menstabilkan dan membuat pasien nyaman, dokter akan berusaha untuk mengatasi rasa nyeri atau dampak yang ditimbulkan oleh suatu penyakit.
* Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan mengenai penyebab penyakit, dan berusaha menyembuhkannya. Sedihnya saat ini ada bermacam penyakit yang belum diketahui obatnya, atau memerlukan waktu penyembuhan yang lama sehingga memerlukan biaya yang mahal.
* Konsekuensi dari pendekatan pengobatan ialah tidak ada jaminan penyakit tidak akan muncul kembali, sehingga pasien akan kembali sakit, dan mengulangi seluruh proses pengobatan, yang melelahkan, menyakitkan dan membutuhkan biaya besar.
* Besar kemungkinan adanya efek samping, selain efek alergi dari pasien itu sendiri.

Pendekatan K-Ayurveda :

* Pengobatan Ayurveda dipercaya sebagai terapi tambahan yang bekerja melengkapi terapi medis yang diberikan oleh dokter, yang bekerja secara sinergis.
* Berasal dari bahan alam sehingga bebas efek samping. Namun untuk hasil terbaik, instruksi dosis, dan saran mengenai pola makan harus ditaati dengan seksama.
* Perlindungan menyeluruh terhadap hampir seluruh penyakit, menangani penyakit bahkan sebelum mereka timbul, serta menjaga kesehatan.

Ayulite, Obat Herbal Alami Penyakit Radang Hati

Penyakit Hati

Hati adalah gerbang atau saringan antara sel tubuh dan zat racun. Rokok, alkohol, pestisida dan polusi dapat memperberat kerja dari hati dan proses metabolisme makanan. Untuk mengobati penyakit hati, tumbuh-tumbuhan memainkan peran yang vital, dimana bahan alami akan sangat membantu.
AyuLite
Penyebab :
 
  • Infeksi virus
  • Sembelit
  • Alkohol
  • Penggunaan antibiotik tertentu
  • Infeksi pada daerah perut
  • Mal-absorsi dan mal-nutrisi
  • Faktor genetik
Gejala : 
  • Demam
  • Gas dalam perut
  • Mual-muntah
  • Mengigil
  • Penyakit kuning
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kehilangan berat badan
  • Keringat berlebih
  • Nyeri pada daerah perut
  • Cepat merasa lelah
Perawatan-Pendekatan AYURVEDIC : 
  • Meningkatkan fungsi kerja hati
  • Pembersihan / detoksifikasi hati
  • Menghilangkan infeksi pada hati
AYULITE adalah kombinasi herbal yang melindungi, mengatur dan membantu menguatkan fungsi hati agar dapat mengabsorsi dan memurnikan darah lebih baik.
AyuLite

Cara Kerja :
 
  • Anti hepatotoksik (mencegah kerusakan hati)
  • Hepatoprotektif (menjaga fungsi hati)
  • Merangsang daya tahan
  • Anti radang
  • Analgesik (mengurangi rasa sakit)
  • Anti virus
  • Hepatonik (meningkatkan fungsi hati)
AYULITE secara tradisional digunakan untuk : 
  • Hepatitis yang disebabkan oleh virus
  • Keracunan dan pembengkakan pada hati
  • Sirosis pada hati
  • Penyakit kuning
  • Ederna
  • Kehilangan selera makan
  • Tonik hati
AYULITE : 
  • Menyehatkan fungsi hati dan menguatkan fungsi hati agar mengabsorsi lebih baik
  • Memurnikan darah
  • Menghilangkan infeksi
  • Merangsang nafsu makan
  • Aman dikonsumsi untuk segala umur
Dosis :
2 kapsul tiga kali sehari.

Komposisi :
 
  • Ekstrak Herba Andrographis Paniculata
  • Ekstrak Tecoma Undulate
  • Ekstrak Herba Tephrosia Purpurea
  • Ekstrak Herba Phyllanthus Niruri
  • Ekstrak Herba Eclipta Alba
  • Cortex Halarrhena Antidysenterica
  • Radix Glicyrrhiza Glabra
  • Ekstrak Herba Fumaria Paviflora
  • Rhizoma Tinospora Cordifolia
  • Radix Hedychium Spicatum 

Bagaimana mendapatkannya:

Wilayah Timor Leste: +670 7295192, harga USD 28.00
Wilayah Indonesia Timur (Kupang): minggus81@yahoo.co.id 

Jan 11, 2011

Mengembalikan Perempuan ke Rumah

Bilio S*
Program Officer, JICA TL Office
PERNAH terjadi, sekitar empat-belas tahun yang lalu sewaktu masih ‘terkurung’ di asrama (Seminari Dare), saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang amat krusial dan rumit. Pernahkah Anda mengenal Perempuan? Pertanyaan berikut, seperti apa dan siapakah mereka itu? Waktu itu, tanpa pikir-panjang, saya spontan memberi jawaban afirmatif. Ya, saya mengenal mereka! Saya lalu diminta mengurutkan jawaban saya secara sistematis yang mana langsung bersinggungan dengan pemahaman awalku yang agak dangkal tentang perempuan saat itu.
            Pikiran dasar yang muncul sebagai jawabannya adalah membayangkan perempuan yang pertama kali saya jumpai dalam hidup ini, yakni dia sebagai seorang ibu. Selain itu, mereka yang tergolong dalam jenis-kelamin ini adalah nenek, saudari, tante, para suster, gadis/cewek dan mantan pacarku. Dalam benak saya, seperti itulah pemahaman awal yang amat dangkal tentang perempuan.
            Tak terasa, waktu terus melaju dan perjalanan studi pun diperkaya oleh beragam analisis-filosofis dan teologis tentang figur, kiprah dan peran perempuan. Hampir semua diskusi, refleksi dan renungan-rohani diarahkan untuk menghormati dan menghargai perempuan. Alasannya, pengorbanan perempuan dalam hidup ini sungguh berat. Mulai dari kesibukannya mengelola rumah-tangga sampai pada tuntutan untuk mengambil-bagian dalam tugas-tugas di luar rumah.
            Satu hal yang paling menarik adalah refleksi tentang bagaimana menempatkan kemanusiaan dan kehormatan perempuan sebagai mutiara yang patut disanjung dan dihargai. Relevansi dan orientasi refleksi-teoretis dimaksud pada intinya dijelaskan oleh dan dalam praksis hidup keseharian. Dalam kaitan itu, ada dua ketegori perempuan yang diprioritaskan. Pertama, perempuan-muda(gadis/cewek) yang dalam relasi-cinta disebut pacar/kekasih. Kedua, perempan yang memainkan peran sebagai ibu.
            Untuk kategori pertama, upaya menghormati dan menghargai perempuan dimulai dengan anggapan-awal yang begitu mulia, yakni dia sebagai kekasih sekaligus saudari-kandung sendiri. Kedua anggapan ini harus dwitunggal adanya dengan dalih kasuistik bahwasanya pelbagai tindak perkosaan dan pelecehan terhadap perempuan kerap juga tak terelakkan karena keduanya sering diceraikan dalam mana kesadaran dan nurani kemanusiaan lelaki yang seharusnya normal secara etis, telah terbentur oleh naluri lain yang mewakili watak superioritas yang instingtif dan serakah.
            Kategori kedua, upaya dan maksimalisasi kesadaran-sehat-etis ini berlanjut pada proses internalisasi dan konsientisasi nilai-baru untuk membayangkan sekaligus memahami peran dan status perempuan sebagai seorang ibu. Status dan peran mulia inilah yang menjadi prasyarat awal pemanusiaan dan pembentukan pribadi seseorang. Mudah dikatakan bahwa sejarah kelelakian lelaki pun berawal dari genggaman dan asuhan sang bunda tercinta. Dasar pemikiran ini niscaya mewajibkan lelaki untuk menghormati dan menghargai perempuan.
            Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya muncul konsepsi pembebasan gaya-baru. Perempuan harus beremansipasi dan dibebaskan dari jeruji kekuasaan lelaki. Perempuan harus bekerja dan meniti karier di luar rumah. Konsep emansipasi yang berlatar liberal-westernistis ini dikemas lewat beragam cara perjuangan seperti gender-equality, contra-violence against women, sexism, dan semacamnya. Tujuannya adalah untuk memperbaiki citra dan harga-diri perempuan yang selama bertahun-tahun terus dilecehkan oleh struktur, sistem dan kekuasaan kaum patriarki.
            Memang, perjuangan macam ini sudah cukup mendunia. Di Timor Leste sendiri misalnya, konsep direito de igualidade versi Fokupers ditampakkan lewat tuntutan the rights of partaking in public and political spheres. Nampak jelas bahwa perjuangan kesetaraan itu punya corong pemekaran baru menuju peran dan kiprah perempuan di luar rumah di mana domain publik bukan dominasi lelaki semata.
            Cuma satu hal ini yang cukup mengejutkan saya. Saat sedang mengamati gejala demikian, saya tersentak ketika seorang teman-diskusi melontarkan beberapa soal-gender yang agak menantang dan menggelitik. Pertama, “Bagaimana mungkin pembangunan di Timor-Leste akan berhasil kalau perempuan beremansipasi?” Kedua, “Kalau perempuan sudah meniti karier di luar rumah, bagaimana dengan tugas dan tanggung-jawabnya sebagai seorang ibu yang setia melayani suami dan mengurus anak-anaknya?” Ketiga, “Misalnya, seorang perempuan menjadi pejabat, masih maukah dia membuat kopi untuk suaminya?” Keempat, “Sudah mampukah sang suami membedakan rasa-kopi mana yang paling nikmat baginya? Kopi yang disuguhkan oleh pembantu ataukah kopi dari sang istri tercinta?”
Feto Timor
            Untuk menjawab pertanyaan ini, dua sisi-korelatif tentang perempuan dapat menjadi bahan-analisis, yakni peran ganda versus beban ganda. Peran ganda mengandaikan kiprah perempuan baik di rumah maupun di dunia-publik. Menjadi persoalan karena peran ganda ini bisa saja ‘mewajibkan’ sang perempuan untuk menerima beban-ganda. Wajar-wajar saja kalau konsepsi ini ditampik kaum perempuan dengan berdalih mampu menjalankan keduanya dan sanggup menanggung beban ganda itu.
            Cuma menariknya, tidak sedikit perempuan yang hanya memberi prioritas pada sektor domestik atau publik saja agar beban kerjanya menjadi ringan. Bahkan paling menarik lagi, ada juga segelintir yang berkonsentrasi saja pada peran publik sementara sebagian besar tugas rumah tangga diserahkan pada pembantu, nenek atau mertua. Sisi paling menarik inilah yang rupanya cukup dilematis terutama menyangkut proses pengasuhan, pendidikan, perawatan serta pemeliharaan anak-anak.
            Kalaulah akhirnya tetap muncul gugatan bahkan optimisme bahwa peran domestik bisa dibagi secara merata, arif dan bijaksana bersama suami, mertua atau babu, niscaya menyisakan persoalan mungkinkah ini efektif? Untuk memperkuat tesis ini, bisa digali sedikit pengalaman dari negara perintis emansipasi. Amerika tak bisa disangkal adalah negara liberal pencetus Women’s Liberation yang de facto hingga hari ini pun pembebasan paripurna perempuan belumlah ideal seperti yang diharapkan kalangan feminis.
Mungkin lantaran itu, negarawan Perancis, Tocqueville dalam bukunya Democracy in America justru memuji negeri Paman Sam itu karena menempatkan perempuan sebagai ibu yang menjadikan rumahnya tempat berlabuh bagi seluruh anggota keluarganya. Menurutnya, ini adalah faktor utama yang menjadikan Amerika sebagai negara makmur dan mempunyai pengaruh besar di seluruh dunia hingga detik ini.
Mengikuti garis pemikiran demikian, terasa sungguh naif manakala muncul anggapan bahwa tugas dan tanggung jawab mengelola rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak produktif dan cenderung ditempatkan pada posisi yang lemah. Bukankah peran perempuan dalam membina calon-calon 'pria dewasa' pernah mengalami sukses yang tak terbilang jumlahnya? Terutama sukses dalam membentuk pribadi paripurna yang mandiri, terampil, dan berkepribadian. Dan ini mustahil diserahkan seluruhnya kepada suami, pembantu atau bahkan sekolah sekalipun.
Bila direnungkan sejenak, pola pendidikan yang dilakukan oleh seorang ibu memang sungguh unik. Nampak begitu berbeda dengan cara yang dilakukan entah itu pembantu, mertua, ataupun guru di masa-masa pertumbuhan anak. Terdapat unsur emosi yang inheren di diri sang ibu yang bisa saja memudar bahkan lenyap manakala anak diasuh oleh orang lain. Dalam kenyataan, apabila anak lebih banyak bergaul dengan gurunya atau pembantunya, merekalah yang akan dijadikan figur oleh sang anak dalam berpikir dan mengambil sikap dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Pada titik ini konklusi tentatif bisa ditarik. Seandainya perempuan melepaskan tugas dan tanggung jawab keibuannya, maka wajar-wajar saja apabila anak kehilangan figur yang diharapkan. Lebih parah lagi, kalau ketaatan anak pada orang tua diragukan, plus terganggunya pola komunikasi anak dan ibu. Kalaulah ini yang terjadi, bukankah kita sedang berada di ambang kehancuran rumah tangga? Bagaimana dengan sikap dan perilaku moral anak seandainya sang ibu terus menghabiskan waktunya di luar rumah?
Gejala umum yang nampak, sang anak rupanya lebih dekat dengan ibu ketimbang ayah lantaran adanya kedekatan fisiologis maupun psikologis antara ibu dan anak yang dengannya cukup banyak nilai etis, kebajikan serta keutamaan moral lainnya yang diperoleh anak berkat bimbingan, asuhan dan pendampingan dari orang tua, khususnya sang ibu. Seandainya pilihan peran macam ini diprioritaskan, tentu bisa diharapkan muculnya generasi-baru yang melihat dan menilai tindak-pemerkosaan sebagai perbuatan biadab dan durhaka terhadap sejarah kemanusiaan lelaki yang memang sungguh bermula dari pemeliharaan(dalam rahim) dan pengasuhan sang bunda tercinta. Juga, tindakan brutal dan anarkis lainnya akan masuk dalam kategori ini.
Jadi, bila gagasan-alternatif ini diterima sebagai logis dan realistis, maka pertanyaan “bagaimana mungkin pembangunan di Timor-Leste bisa berhasil kalau perempuan beremansipasi?”, bisa nampak titik-terangnya. Pembangunan bisa sukses kalau ditunjang juga oleh adanya manusia-manusia yang sadar akan eksistensinya, dapat menghargai orang lain dan mampu bertindak melawan naluri kebinatangan yang biadab dan tak terpuji. Dengan kata lain, pribadi-pribadi yang bermutu dan berbobot secara moral, kultural dan intelektual sungguh ditentukan oleh efektivitas tanggung jawab dan peran mulia yang harus dimainkan oleh perempuan yang disebut ibu, bunda, mama, dan semacamnya.
Benang merahnya adalah perempuan kalau sudah memainkan peran sebagai ibu alias telah punya anak, dia tidak cukup hanya menjadi ibu biologis saja, tapi sosiologis dan psikologis juga. Tidak tanggung-tanggung, sang suami pun akan bangga kalau manajemen intern keluarga termasuk mengurus anak-anak dan melayani suami(plus tetap menyuguhkan kopi-segar untuk suami) adalah kewajiban isteri. Tidak sedikit suami yang begitu mencintai isterinya karena kewajiban dan tugas keibuan isteri begitu mempesona baginya. Apalagi anaknya pun pintar, cerdas, taat asas dan patuh pada orang tua. Mungkin hanya suami gila, brutal dan emosional saja yang tidak menghargai hasil pengasuhan sang isteri(ibu) seperti ini.   
Singkatnya, tugas dan kewajiban perempuan sebagai ibu adalah tetap menganggap rumah tangga dan keluarga sebagai ‘property’ miliknya sendiri. Mungkin perempuan Lorosae adalah sosok yang commit dan menyatu dengan peran mulia macam itu. Maka tidaklah mengherankan kalau pihak Fokupers pun mengaku kalau urusan dapur(katakanlah tugas rumah tangga secara keseluruhan), perempuan justru lebih tepat. Semua ini pada intinya hendak mengafirmasi solusi ideal sekitar peran mulia perempuan sebagai ibu dalam membentuk, mengasuh dan mendidik putra-putri Lorosae yang tangguh dan berbobot lewat imperatif hakiki bahwasanya perempuan tidak harus meninggalkan rumah. Jadinya, mengembalikan perempuan ke rumah sama dengan menghargai peran, tanggung jawab dan kewajibannya sebagai ibu yang proporsional, berbobot, bijaksana dan paripurna.***
Timor nia Feton
***
*Penulis, Mantan Editor majalah LM dan Time Timor, Konsultan Gender, 
bekerja di JICA Timor-Leste Office, tinggal di Aimutin, Dili.



**)Tulisan ini telah diterbitkan di Harian Suara Timor Lorosae (STL), Edisi 29 Juni 2002.