May 18, 2011

Menjelajahi Atambua dan Sekitarnya

Jembatan Perbatasan
Timor Leste - Indonesia
Atambua di Timor Barat adalah kota kedua bagiku setelah Dili di Timor Leste. Enam tahun menetap di kota ini menggoreskan sejuta kisah yang turut membentuk kepribadianku. Selalu ada hasrat untuk mengunjungi kota ini setiap ada waktu. Tentu, selalu senang mengunjungi tempat-tempat dulu sembari bernostalgia. Rasanya ingin menetap lagi di kota ini lebih lama, tetapi tidak tahu harus berbuat apa di kota ini? 


Menunggu Waktu di Perbatasan Mota Ain

Jembatan Loes dalam ancaman
Tiba di Mota Ain dari Dili dengan Timor Travel, terasa sangat lelah. Sepanjang perjalanan yang berliuk-liuk, berlubang-lubang, hingga menanti berjam-jam di sekitar Batuboro (Maubara) karena perluasan dan perbaikan jalan raya, menamba derita para penjelajah. Rasanya ingin turun saja di ujung Jembatan Loes, menikmati ayam bakar, jagung muda, ketupat, ikan bakar, tetapi harus kejar waktu sebelum pintu perbatasan negara ditutup. Oh ya, Jembatan terpanjang di Timor Leste itu, dalam ancaman sungai Loes, sungai terpanjang di Timor Leste. Di salah satu bagian di arah barat, dihantam arus sungai hingga miring beberapa derajat, yang mengakibatkan kendaraan lebih dari roda empat dilarang melewati jembatan itu, kendaraan roda empat boleh lewat tapi terpaksa penumpangnya turun, jalan kaki menyeberangi jembatan. 


May 16, 2011

Bedakan Antara Yahudi dan Israel

Yahudi. Bila kata itu ditanyakan pada muslim atau nasrani, seringkali ditanggapi dengan geram. Kata Yahudi memang diidentikkan dengan Israel yang menjajah Palestina. Kebencian pada Yahudi patut dipahami. Tapi apakah semua orang Yahudi patut dimusuhi? 

Penganut Yahudi sudah lama berada dan diakui keberadaannya di Indonesia. Harus diketahui, banyak orang Yahudi yang prokeadilan dan cinta kemerdekaan serta tidak suka dengan pemerintah Israel. Agar tidak benci membabibuta, harus dibedakan antara Yahudi dengan Israel.

Jalan Panjang Yahudi di Indonesia

Penganut Yahudi sudah lama ada di Indonesia. Mungkin sudah ada sejak 160 tahun lalu, saat zaman penjajahan Belanda. Jacob Saphir, merupakan pengelana Yahudi pertama yang datang ke Indonesia. 

Jacob, seperti dimuat di Jewsivirtuallibrary , datang ke Indonesia pada 1850-an. Saat itu, menurut Jacob, ada sekitar 20 keluarga Yahudi berasal dari Jerman dan Belanda yang berada di Jakarta. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pedagang atau bekerja pada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang menjajah Indonesia.

Saat itu para Yahudi ini dinilai tidak religius dan belum memiliki organisasi yang mempersatukan mereka. Karenanya, Jacob meminta kepada komunitas Yahudi di Amsterdam, Belanda, untuk mengutus seorang Rabbi guna mengatur orang Yahudi di Hindia Belanda (Indonesia). 

The Road Back: Abandoning Pornography

By Rory C. Reid, Ph.D
Psychologist, Licensed Clinical Social Worker



The Lord will support your efforts to overcome a pornography habit.


Pornography is increasing in popularity and accessibility, and many think of it as harmless fun. But Church leaders have consistently warned us about its destructive nature. President Gordon B. Hinckley cautioned: “Stay away from the great and terrible flood of pornography that is sweeping across the earth and makes a few men rich while it destroys many others who become enslaved to it. Stay away from it.”  

Is My Pornography Use a Problem?


By LDS Family Services
If you question whether your pornography use is a problem, compulsive or addictive, here are some questions that may help you determine if help is needed.

May 15, 2011

In Timor-Leste, UNICEF joins government child-friendly efforts to rebuild education

By Steve Nettleton

LACLUBAR, Timor-Leste, 13 May 2011 – High along the mountainous spine of Timor-Leste, one of Asia’s poorest countries, children in the remote town of Laclubar head for class. Yet the tranquil setting of this quiet place, nestled under the canopy of tall trees, masks a darker history that is only now beginning to fade.

The fact that Madalena Soares, 13, can come to class at all represents a success story of local and international cooperation. She is not only a student, but a leader, serving as president of her school’s student council. Her classroom is not ideal – a floor of earth and walls of stitched bamboo. But most other rooms here are in better condition.


May 14, 2011

Hau Beik Sala, Beik Sala, Ladiak Liu!

Husi: Anacleto. C. Ribeiro (Lian Nain Timor-oan)

Jeneral Taur Matak koalia makaas hodi sadik Governu atu muda politika nebe tenke uza Tetun iha tribunal/justisa tanba iha polemika konaba desizaun tribunal hodi hatun sentensa ba Veteranu Oan Kiak ho Alberto da Costa (Notisia TVTL, oras 20.00, 11 Marsu 2010). Kasian tebes, sekarik ema tama kadeia saugati deit tanba durubasa la hatoo lia lolos iha tribunal no tanba lian nebe uza iha tribunal laos povu nia lian inan.

Nia laos sadik deit Governu maibe nia mos sadik no fanu Timoroan hotu katak tempu too ona ba ita atu hahii no hauelok ita Lian Inan Tetun nudar identidade nasional. Lian Inan nebe tuir los hetan fatin diak maibe iha realidade sai fali hanesan oan kiak ka marjinalizadu tanba ita rasik la fo atensaun. Problema lian nee laos deit iha justisa maibe afeta sektor hotu-hotu iha moris povu nian.

"Meu Amor" Besik Ona Mai!


IHA tempo besik ita nia kantora Aida Belo sei lansa nia album foun ho hananu foun. Knanuk ne'e sei ho na'in hela (kaer metin) maibe promete hakfodak ita ho lian nakonu no kualidade muzikal. 

Ita hotu rona ona Aida nia lian lotuk no furak maibe ida ne'e dehan sei doko ita nia fuan no halo isin-fulun hamri'ik. 


May 12, 2011

Xanana Gusmao: A Hero's Journey

Full name José Alexandre 'Xanana' Gusmao. AKA 'Maun Boot' (Big Brother), AKA 'Katuas' (The Old Man).

Country: East Timor (now Timor-Leste).
Cause: Liberation of East Timor from Indonesian regime.

Background: East Timor is colonised by the Portuguese in the 16th Century. When the Portuguese leave in 1975 it appears the colony might finally gain its independence. But Indonesia invades at the end of the same year. The East Timorese begin a 24-year struggle to liberate their homeland.

Mini biography: Born on 20 June 1946 in Laleia, Manatuto, East Timor, he is the second son in a family of nine children. His parents are teachers. Gusmao is educated at the Jesuit mission of Nossa Senhora di Fatima at Dare in the hills overlooking Dili. After leaving school he works in various jobs in Dili - typist, draftsman, waterside worker and fisherman - before obtaining a permanent position in the public service and continuing his studies. While working as a journalist he takes the nom de plume 'Xanana'. The name will stick for the rest of his life.

East Timor: Geography and the History

Geography

East Timor is located in the eastern part of Timor, an island in the Indonesian archipelago that lies between the South China Sea and the Indian Ocean. East Timor includes the enclave of Oecussi, which is located within West Timor (Indonesia). After Indonesia, East Timor's closest neighbor is Australia, 400 mi to the south. It is semiarid and mountainous.

May 9, 2011

Di kala Senja - Oras Loro Malirin


1. ORAS LORO MALIRIN / TEU TANIS LAKATEU TANIS (Ketika senja / anak merpati menangis)

TANIS NA'AK NIAN INA / RO SINA SA'E RO SINA (Menangisi induknya / yg terbang pergi dengan kapal terbang).



2. TAKA SELA BA KUDA / LUN TURU BETE LUN TURU (Menaruh pelana kuda / Si gadis pun menangis)
BETE KETA LUN TURU / BA KIKAR BA MAI KIKAR (Sayang, jangan menangis / Aku akan kembali nantinya).



3. OHIN KALAN SEI RANI / AI IDA MUTU AI IDA (Malam ini masih bersama / Hinggap sedahan)
AWAN EMI AIN TASI / AIN TASI AMI AIN FOHO (besok kalian ke laut / kami ke gunung).



4. NAKUR MOTA RUA TOLU / KIAK MALUN BUKA KIAK MALUN (Menyeberangi dua-tiga sungai / Mencari Kerabat)
BUKA NETAN KIAK MALUN / TAU LORO TANIS TAU LORO (Ketika menemukannya / Menangis sepanjang hari).



6. SOSA KUDA MALIKU / RIN DI'AK KUDA RIN DI'AK (Beli kuda perhatikan / Kuda yang tangkas dan kuat)
MONU TA'U LA SUKAT / RIN DI'AK KUDA RIN DI'AK (Ketika jatuh ke dalam lumpur / Kuda itu tetap bertenaga).



7. TALI TELIK NAKLAMAT / MAUDEMU FATUK MAUDEMU (Tali telik =sejenis tanaman merambat lebat / di Fatuk Maudemu= nama tempat di pegunungan Belu Utara)
SOE HAKON SOE LAIN / MAUDEMU FATUK MAUDEMU (Terhempas jauhlah rambatannya ke mana-mana / Tetaplah dari akarnya di Fatuk Maudemu).



8. AWAN ATU BA ONA / SA MODI SOLOK SA MODI (Besok, kamu akan pergi / Apa yang hendak kami titipkan untuk engkau bawakan)
LA SOLOK SA IDA / KAER LIMAN SURAK KAER LIMAN (Kami tidak mengirim apa-apa / yang penting kita bisa berjabatan tangan).



9. MATAN DATO SELU-SELUK / LA TO'O SULI LA TO'O (Sumber air yang lain / tidaklah mengalir sampai ke laut)
MATAN DATO LAHURUS, SAI TASI SULI SAI TASI (Sumber Bangsawan Lahurus / Mengalir sampai ke laut).



10. HALI ITA RAI BELU / LEON DI'AK HALI LEON DI'AK (Beringin kita tanah Belu / naungannya sungguhlah baik)
HAKON SORIN LEO FETO (wanita) / LEO FETO SORIN LEO MANE (Separuh dahannya menaungi utara, separuh lagi menaungi selatan (pria).



11. KUKUR BOTU TARUTU / MAI ONA TINAN MAI ONA (Guntur menderu / musim hujan pun tiba)
FINI HARE BAUK MORIN / NAKTA'UK TUBU NAKTA'UR. (Benih padi bauk morin= jenis padi lokal timor yang baunya harum / bertumbuh suburnya). 



12. LE'UN ITAK WEHALI / NAKFEHAN LUAN NAKFEHAN (Dataran kita di Wehali= di Belu Selatan / betapa luasnya)
NAMOK BALOK KADUAK / FORE FATIK KUDA FORE FATIK (tempat si kembar perempuan Namok dan Balok / menyemai kacang hijau).

Oleh: Nuel Talok

A Língua Portuguesa em Timor-Leste

Por D. Carlos Ximenes Belo, SDB* 


O contacto dos Portugueses com os Timorenses data de 1512, quando depois da Conquista de Malaca os navegadores lusos sulcavam os mares da Insulíndia, em demanda de especiarias, cravo, noz moscada, canela e sândalo. Na altura, a língua do comércio naquelas paragens era Malaio. Porém ao longo do século XVI e XVII, a língua franca era o Português. O ensino da língua Portuguesa em Solar, Flores, Timor e Ilhas circunvizinhas, foi implementado, sobretudo, pelo missionários dominicanos. Pois nos finais do século XVI fundaram um seminário menor em Solor para ensinar os meninos da Ilha a ler, contar. Nos princípios do século XVI, com a perda de Solar para os Holandeses, abriram outro seminário em Larantuca. Na Ilha de Timor, onde a presença dos dominicanos se fez sentir com maior intensidade, abriram-se escolas rudimentares nos reinos, junto das capelas e igrejas, que não eram senão barracões coberto com colmos de palmeiras ou coqueiros ou de capim. Na segunda metade do século XVIII, fundou-se o primeiro seminário em Oe-cusse, durante o governo do Bispo do Bispo Frei António de Castro (1738-42). Em 1747, abria-se um segundo seminário em Manatuto. Não dispomos de relatórios dos Frades, sobre o funcionamento, o programa de estudos, nem o número de alunos, e muito menos de sacerdotes formados, fruto daquelas duas instituições. Em 1769, por causa do cerco dos Topasses e da ameaça dos holandês, a Praça de Lifau foi incendiada, e mudou-se a capital para Dili. Presume-se que em Dili, os dominicanos residentes na Praça de Dili, tivessem fundados escolas. O certo é que em 1772, o comandante de um navio francês François Etienne Rosely depois de ter visitado Lifau, Dili e outras povoações costeiras, fazia este comentário: “Quase todos os chefes falam Português e nos reinos vizinhos dos Portugueses é a língua geral (...). Conheci alguns muito sensatos, espirituais, engenhosos, sinceros e de boa fé, entre os quais um, muito versado na História da Europa”.



Ao longo do século IX, verificou-se a diminuição de missionários dominicanos. E isso teve consequência na acção missionária e naturalmente do ensino do Português. Entre os anos 1830 a1856, o primeiro padre Timorense, Frei Gregorio Maria Barreto dirigia uma escola rudimentar nos reinos de Oe-Cuuse, Ambeno e Dili. Em 1863, o governador Afonso de Castro fundou ma escola régia em Dilui, destinada aos filhos dos Chefes e de outros principais. A direcção dessa escola foi entregue ao segundo padre Timorese, Jacob dos Reis e Cunha. O grande desenvolvimento das escolas das missões deu-se em 1878, quando o padre António Joaquim de Medeiros, mais tarde Bispo de Macau, estabeleceu o programa da educação da juventude timorense com a abertura de escolas rurais em Manatuto, Lacló, Lacluta, Samoro, Oe-Cusse, Maubara, Baucau, etc. A instrução, a certa altura era tão absorvente que os padres, dedicavam-se mais às escolas do eu à missionação. Essa situação mudou tempestivamente com o governo do Bispo Dom José da Costa Nunes. Em 1924, fundou-se a escola de Preparação de Professores-catequistas. Os timorenses que tinham sido aprovados nessa escola, e depois de serem nomeados professores, foram colocados em diversas estações missionárias, tornado-se agentes principais do ensino da Língua Portuguesa nas aldeias e no sucos. Em 1935, o Governo da Colónia de Timor decidiu entregar o “ensino primário, agrícola, profissional às Missões Católicas, sob a superintendência do Governo da Colónia” (Portaria Oficial, n.º 14). Em 1936, fundou-se o Seminário Menor em Soibada, pelo padre Superior daquela Missão, Jaime Garcia Goulart. E em 1938, funda-se o primeiro liceu. Pode-se afirmar que em 1940, 4 % dos Timorenses falavam o Português, isto é os funcionários, os professores e os catequistas, os “liurais” e chefes, aqueles que tinha tirado a 3 ª e a 4ª classe em Dili e no Colégio de Soibada.

Até á invasão das tropas estrangeiras, Australianos e Holandeses num primeiro momento, e depois, os Japoneses, o ensino ficou paralisado. Depois do Armistício de 1945, e da retomada da soberania em Timor, retomou-se o ensino, reabrindo-se colégios e escolas. Em 1960, com o major da Engenharia Themudo Barata, como Governador da Província, assiste-se a um surto de escolas municipais. E em 1963, o Exército começa a dedicar-se ao ensino, nas escolas dos sucos., escolas essas situadas nos lugares de mais difícil acesso. Até 1970, havia no Timor Português um Liceu (de Dili), um Seminário Menor, onde se ministrava o ensino secundário. Uma Escola de Enfermagem, Uma Escola de Professores do Posto, Uma Escola Técnica, em Dili, e em Fatumaca, uma Escola Elementar de Agricultura. Nesse havia em Timor 311 escolas primárias, com 637 professores e 34.000 alunos. Até 1975, data da invasão da Indonésia do território de Timor, apenas 20% dos Timorenses falavam correcta e correntemente o Português. Como se explica esta situação? Vários factores: a distância (20 mil quilómetros da Metrópole); reduzido orçamento destinado ao ensino e instrução; reduzido número de professores; a falta de interesse da maioria de famílias (agricultores); só dois semanários ( A Voz de Timor e a Província de Timor), um quinzenário, a Seara (propriedade da Diocese de Dili); apenas 2 emissoras. Tudo isso pouco contribuiu para a difusão da Língua. A existência de 21 línguas ou dialectos, o que permitias aos falantes, usarem o Português, só no âmbito da escola ou nos actos oficiais.

O Período da Ocupação indonésia (1976-1999). O ensino da Língua portuguesa foi banida e proibida em todo o Território, excepção feita ao Externato de São José. A Diocese de Dilui, contudo, publicava os seus documentos (quer da Câmara Eclesiástica ou do paço episcopal) em Português. A guerrilha comunicava-se em Português. Nalgumas repartições do Estado, poucos timorenses, informalmente comunicam-se em Português. Houve casos em que um outro jovem foi esbofeteado por saudar o missionário com um “Bom-dia, senhor padre!”.

Hoje, embora o Português seja considerado a Língua oficial de Timor, a par do Tetum, (art. 13 da Constituição de RDTL), a sua implementação depara-se com grandes obstáculos. Há sectores da sociedade timorense que são contra o uso da Língua Portuguesa; as línguas nacionais(21) e línguas estrangeiras (O Bahasa e Indonesia e o Inglês) são fortes concorrentes do Português. O timorense, às vezes, recorre-se ao uso do idioma mais fácil para a comunicação (Tetum, Bahasa, Inglês). Existência de insuficiente número de professores, de livros, de jornais e de rádios e da televisão. Ainda não está generalizado o costume de leitura entre os já “alfabetizados”, sobretudo, leitura de livros, especialmente os da Literatura.

Desafios: continuar a apostar no ensino e na prática da Língua Portuguesa. Para isso, exige-se maior empenhamento dos governantes; na maior distribuição de livros e de outro material, maior implantação da rádio e da televisão nos Distritos e Su-distritos. Daqui, a necessidade cooperação de todos os Países da CPLP.

Num mundo globalizado, o actual panorama da existência de 4 Línguas em Timor (Tetum, Português, Inglês e Bahasa Indonésia), é enriquecedor e vantajoso. Pois cada Língua é uma janela aberta para o Mundo. Por outro lado está o orgulho da preservação da própria identidade nacional. E aqui vale a mensagem do Poeta: “A minha Pátria é a minha língua” (Fernando Pessoa).

*Dom Carlos Filipe Ximenes BeloAntigo Bispo de Dili e Premio Nobel da Paz de 1996.

May 5, 2011

Candi Sukuh di Jawa Tengah (test keperawanan???)

Lagi duduk sante di pelataran
Candi Sukuh, dalam sebuah petualangan
Test Keperawanan alias cara mengetahui bahwa perempuan itu perawan atau tidak, ada cara paling asyik untuk mengetahuinya, jangan sekali-kali bertanya pada perempuan “apakah kamu masih perawan?” Karena pertanyaan demikian akan membuatnya tersinggung. Lebih baik ajak saja sang doi wisata ke sebuah candi, nah siapa tahu dia memang tidak tahu kalau sedang di test keperawanannya.

Candi Sukuh terletak di Desa Sukuh, Kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh adalah candi peninggalan zaman Jawa kuno yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat, pada ketinggian lebih kurang 910 m di atas permukaan laut.

May 4, 2011

Navy Seal 6, Tim “Super Elit” Amerika Yang Misterius

Navy Seal 6, Tim “Super Elit” Amerika yang MisteriusSeal Team 6 (ST 6) saat ini menjadi buah bibir masyarakat dunia. Tim “Super Elit” Amerika itu berhasil menewaskan Osama Bin Laden dalam suatu operasi militer yang sangat rahasia. ST6 adalah pasukan khusus Amerika terbaik yang misterius. Tim elit ini keberadaannya secara teknis tidak bduiakui, tetapi berhasil melakukan berbagai operasi militer rahasia yang besar di dunia Internasional.

Pembentukan ST 6 dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi ini diawali dari kegagalan penyelamatan sandera AS di Iran tahun 1980. Kegagalan misi penyelematan yang memalukan militer Amerika itu, akhirnya mendorong pembentukan pasukan elit antiteroris yang beroperasi dengan cepat dan sangat rahasia.

May 2, 2011

"Timor Leste sempre iha Vaticano nia fuan"


“Joao Paulo Segundu agora beato ona,” deklara Amu Papa Bento XVI ba ema tokon ba tokon nebe nakonu iha Basilica Sao Pedro, Vaticano, Roma, no mos ba mundu tomak nebe akompanha liu hosi televizaun no radio. Ema hotu basa liman naruk hodi haksolok no barak matan ben turu tamba laran dodok. Presidente Parlamento Nacional, Fernando La Sama de Araujo nebe tur besik iha altar (metro ruanulu hosi altar nebe amu papa tur ba) mos basa liman naruk no matan ben turu. Ema hotu haksolok, ema hotu laran dodok. 

Mereka Memperkosa Kekasihku (cerber) 3 & 4

Meski seorang fotografer, dia juga sering menulis opini di surat kabarnya. Kritikannya terhadap pemerintah dan kebudayaan negeri ini cukup tajam. Dia selalu mengritik kemandekan dan menganjurkan perubahan. Dia tak bisa membiarkan setiap kejanggalan dalam hal apa pun.
Apalagi di saat ini, negara tampak kelelahan menghadapi persoalan zaman karena banyak kesalahan di sana-sini. Saking piawainya menulis, suatu kali rekannya wartawan menganjurkan dia menjadi wartawan tulis saja.

“Aku suka menulis, tapi lebih suka memotret karena menyangkut hobi beratku sejak SMP,” jawabnya kepada Lukito, teman wartawannya itu, “Toh, aku bisa tetap menulis jika memang ingin menulis.”

May 1, 2011

Lelaki yang Duduk di Sudut Gereja

Oleh: Monika Nia Liman

Penantian, katamu, adalah hal sia-sia yang tak boleh dilakukan oleh seorang lelaki. Aku  adalah sia-sia, karena sekian waktu tetap berada di sini, di sudut halaman gereja yang ramai oleh anak-anak. Menanti. Keceriaan anak-anak itu mirip dengan keceriaan bintang-bintang yang selalu kita cari dulu di setiap malam bulan purnama. Pun kebahagiaan mereka sama dengan kebahagiaan yang bersinar-sinar di matamu ketika kau memimpin nyanyi-nyanyian  ekaristi.  

Aku ingat persis, kau selalu ingin menjadi dirigen, memimpin teman-teman mudamu menyanyikan magnificat, atau hymne-hymne salib. Sedang tanganmu mengalun lembut memimpin nyanyi-nyanyian itu,  engkau berpaling ke arah umat—aku yakin engkau tahu aku paling suka duduk di sudut, deretan paling belakang bangku-bangku—matamu akan menatapku lama: sesuatu yang maknanya hanya aku sendiri yang paham, lalu beberapa detik selanjutnya kau memberi seulas senyum yang maha manis. Engkau seperti seorang bidadari yang datang dari khayangan di saat-saat itu.

Apr 29, 2011

Mereka Memperkosa Kekasihku (cerber)

Oleh: Hery Prasetyo

Cerita bersambung ini mengambil setting saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Ini murni cerita fiksi, tapi mencoba mengambil kisah salah satu dari sekian perempuan China yang katanya menjadi korban pemerkosaan sistematis.

Seorang pemuda yang berprofesi sebagai wartawan, berpacaran dengan gadis China. Hubungan yang tak disetujui oleh orang tua si gadis. Namun, cinta mereka begitu kuat. Saking kuatnya, mereka sempat akan melakukan hubungan badan sebagai perwujudan rasa cintanya. Namun, mereka membatalkannya demi kesucian.

Namun, kesucian itu akhirnya dinodai oleh sekelompok orang brutal yang mengambil keuntungan saat kerusuhan Mei 1998. Peristiwa yang menjadi pukulan berat buat kedua kekasih itu, juga banyak pihak. Sebuah perjuangan cinta yang dipotong oleh nafsu biadab manusia.

Bagaimana mereka memperjuangkan cinta, peristiwa pemerkosaan, juga apa yang terjadi setelah pemerkosaan itu, ikuti ceritanya dengan seksama, sebuah cerita fiksi tragedi yang mencoba memotret salah satu sisi kerusuhan Mei 1998. (Red)

Apr 28, 2011

Keunikan Belis Gadis Suku Bunak

Oleh:  Benediktus Bere Mali, SVD

Ada banyak teman yang berpacaran dengan gadis-gadis suku bangsa Bunaq. Teman-teman itu ada yang berasal dari suku Bunaq, ada juga yang berasal dari luar suku Bunaq. Beberapa teman itu terpaksa mengakhiri pacaran dengan gadis suku Bunaq karena belis gadis suku bangsa Bunaq mahal. Mereka takut tidak mampu membayar belis/mahar gadis suku Bunaq.
Laki-laki suku Bunaq yang pergi menuntut ilmu di luar suku Bunaq, di luar pulau Timor yang dikenal dengan nama besar sebagai pulau cendana itu, misalnya laki-laki suku Bunaq yang menuntut ilmu di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta, di Surabaya, di Semarang dan di Jogja, atau misalnya laki-laki suku Bunaq yang meninggalkan pulau cendana ke Pulau Dewata-Bali atau pulau Jawa, enggan kembali ke ibu pertiwi Suku Bangsa Bunaq, untuk menikahi seorang gadis suku bangsa Bunaq karena belis gadis suku Bunaq lebih mahal, di bandingkan dengan gadis-gadis yang mereka jumpai di Pulau Jawa dan pulau dewata.

Pada suatu kali, seorang pemuda suku Bunaq di Jakarta, yang mengadu nasib di Ibu Kota Negara-Jakarta mengatakan demikian : " Saya telah memutuskan masuk ke dalam PSIJ. PSIJ singkatan dari Persatuan Semua Isteri Jawa. Istilah ini terkenal di telinga putera Pulau Cendana yang mempunyai isteri yang berasal dari Pulau Jawa. Maksudku, setelah sekian tahun lamanya bekerja di Jakarta, saya tidak ingin kembali ke kampung halaman, tetapi saya memutuskan menikahi seorang gadis yang berasal dari pulau Jawa. Kembali ke ibu pertiwi suku Bunaq, dan nikah dengan seorang gadis suku Bunaq, belisnya mahal, setelah menikah dengan gadis yang berasal dari suku Bunak, diikat oleh berbagai adat yang tidak efektif dan efisien dalam pelaksanaannya, bukan menjadi mimpi saya. Nikah dengan gadis Jawa khan, belis tidak mahal. Bahkan tidak ada belis seperti suku Bunag". 

IDENTITAS DAN HARGA DIRI

Oleh: Benediktus Bere Mali, SVD
Pengakuan Harga Diri
Beberapa waktu lalu sebuah bangsa memberi penghargaan kepada salah seorang putera terbaik Indonesia atas jasanya memperjuangkan kebenaran, keadilan dan perdamaian sampai titik darah penghabisan. Penghargaan yang diberikan itu adalah untuk mengabadikan namanya, harga dirinya dan identitasnya yang dibangun di atas kebenaran, keadilan dan perdamaian sosial yang diperjuangkannya sampai titik darah penghabisan atau sampai mati. Penghargaan itu terungkap dalam menggunakan namanya pada jalan utama Negara dan bangsa asing yang sangat peduli pada perjuangannya daripada bangsanya sendiri.
Harga Diri Sebuah Bangsa
Bangsa Yahudi adalah bangsa yang memiliki harga diri yang tinggi di antara bangsa-bangsa dunia. Harga diri bangsa Yahudi ditakar oleh iman mereka kepada YAHWE sebagai satu-satunya penguasa mereka, yang disistematisasi dalam hukum Yahudi-Hukum Taurat Musa.

BEATIFICAÇÃO DO PAPA JOÃO PAULO II


O próximo dia 1 de Maio será o dia em que o Papa João Paulo II é declarado BEATO. A beatificação do Papa Wojtyla acontece 6 anos apenas depois da sua morte.
O que é a BEATIFICAÇÃO? A beatificação é o rito através do qual a Igreja Católica propõe uma pessoa como modelo de vida e intercessor junto de Deus e, ao mesmo tempo que autoriza o seu culto público, normalmente no âmbito restrito ou familiar. Por meio da beatificação o Papa autoriza a veneração pública de João II na Igreja local

A beatificação é um passo no processo da Canonização. A canonização é um acto solene por meio do qual O Papa, a autoridade suprema da Igreja Católica, declara que a pessoa praticou virtudes heróicas e viveu com fidelidade na graça de Deus, está com Deus e pode ser venerada por toda a Igreja. Um Santo é honrado nas celebrações litúrgicas pela Igreja universal, enquanto o Beato é honrado somente em certos lugares.

Apr 26, 2011

25 Tahun Yang Lalu - Tinan 25 Liu bá 1986-25 Abril-2011


Ohin loron 25 Fulan Abril Tinan 2011. Loron Liberdade nia ba Rai Portugal. Iha tian nebá, Timor Loro sa’e okupado ho soldados (tentara) indonesia. Iha tinan 1986, loron 25 fulan Abril, iha Kolégio Banewaga (Fatumaka), ami ata hasoru malu ho Komandante Falintil Kay Rala Xanana Gusmão.

Tuir pedido Nunsiu Apostoliku, Mosnhor Francisco Canalini, ami haruka surat ida, hosi Padre Eligio Locatelli, ba Ai-laran, atu bele karik, hasoru malu ho Komandante Xanana Gusmão. Hetan tiha resposta pozitivo, ami ho padre José António da Costa, Secretário e Chanceler Câmara Eclesiástica Dioseze Dili, arranka ba Baucau, atu iha kalan ne’e duni, ko’alia ho Xanana Gusmão.

Apr 23, 2011

Rahasia Makam Kosong

Dapatkah kubur kosong menjadi bukti bahwa Yesus, Tuhan orang Kristen, bangkit dari kematiannya? Tidak! Kisah makam kosong tidak dapat menjadi bukti kebangkitan, tetapi merupakan konsekuensi logis dari kebangkitan. Bila Yesus bangkit, tentu saja makamnya kosong. Salahlah jika dibalik: karena makam kosong, maka Yesus bangkit (E. Martasudjita,Pr., 2001).

Malam ini kita mendengarkan kisah seputar makam kosong dan para wanita yang bingung karena Pria Agung yang mereka kuburkan lenyap ditelan kemisteriusan. Apalagi waktu itu belum dan bahkan tidak ada wartawan dan fotografer yang merekam kapan dan bagaimana tepatnya Yesus bangkit dari kubur-Nya. Kerahasiaan ini tetap menjadi milik Yesus, Bapa, dan Roh Kudus.

God is Dead

Oleh: Amo Patris Allegro 

Jumat siang. Kita kenal sebagai jumat agung. Good Friday. Hari wafatnya isa almasih. Ada banyak kenangan yang hadir kembali pada hari ini. Kisah sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus yang dilakonkan dengan penuh semangat oleh anak-anak muda dan diikuti dengan penuh penghayatan oleh kaum tua-tua. Hari ini seperti ada duka. Seolah-olah sengsara Yesus itu suatu kutukan. Tuhan sudah mati. Marilah kita berdukacita?

Tentang Uang, Bola dan Manusia

TURUNKAN NURDIN dan NAIKKAN GAYUS!

Pernah dengar cerita tentang penjara bawah tanah ukuran 1X1 meter? Adanya di Kota Semarang, tepatnya kompleks bangunan perkereta-apian jaman belanda dengan jumlah pintu yang banyak dan sering disebut LAWANG SEWU (seribu pintu). Penjara jongkok, demikian penduduk sekitar menyebut sambil mengenang tragisnya pemerintahan kolonial dengan penegakan hukumnya yang sangat tidak manusiawi. Semua yang dihukum mati disengsarakan dengan cara demikian sebelum maut merenggutnya dalam kegelapan dan tenangnya dunia ‘bawah’ yang sadis.

Ada juga tiang-tiang gantungan yang keji tempat orang digantung dan dihukum mati. Mati tercekik di atas tiang gantungan adalah salah satu cara pembunuhan dengan menggunakan kuasa represif yang keji. Kemanusiaan terbunuh oleh tali yang menyetop hubungan dan sistem transformasi saraf dan sirkulasi darah serta keterhubungan anatomi tubuh manusia bagian tengah dan atas. Mati di penjara jongkok dan mati di tiang gantungan adalah salah satu jenis kebiadaban yang pernah menjadi tren paling modern dalam membangkitkan ketakutan masyarakat lewat shock therapy.

Apr 22, 2011

Anda ada di dalamnya???

Berhala-Berhala Kontemporer
Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay 

Ketika Marx menyampaikan kritiknya kepada kelompok pemegang modal yang berupaya menjadi ‘tuan’ atas segala sesuatu, ia mengisi kantong serangnya dengan peluru logika. Kesenangan menimbun harta dengan terus menjadikan pekerja-pekerja teralienasi dari dirinya sendiri merupakan salah satu bentuk. Kesenangan ini kemudian dirayakan secara berlebihan dengan tidak menyertakan akal sehat. Perayaan dan pemujaan inilah yang disebut Fetisisme oleh Marx. Pesona kapital justeru memenjarakan kelas pemilik modal pada kultus a-kritis terhadap berhala-berhala yang tak memiliki dasar logis yang mereka bangun.

Marx kemudian membayangkan dengan pasti sebuah kehancuran otomatis kapitalisme di akhirnya sebagai akumulasi dari pelbagai kontroversi yang ditimbulkannya in se. Namun, kehancuran ini boleh dibilang mustahil hingga saat ini, karena kelas-kelas yang dibagi Marx dalam penguasaan produksi, kelompok marjinal dan borjuis justeru tak terpisahkan di ranah konsumsi. Akan tetapi, corak pemikiran Marx yang didasarkan pada penyembahan ‘berhala-berhala’ yang melemahkan akal manusiawi tetap menjadi peluru ampuh dalam memaknai euforia zaman yang tidak seimbang ini. Perkembangan teknologi yang didasarkan pada inovasi dan pengembangan akal budi justeru membelenggu manusia pada ketakberdayaan menemukan makna terdalam hidup.

Apr 15, 2011

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

aku lahir dari perut ibu...
(bukan kata orang..memang betulkan?..)

bila dahaga, yang susukan aku....ibu
bila lapar,yang menyuapi aku....ibu
bila sendirian,yang selalu disamping aku....ibu
kata ibu, kata pertama yang aku sebut....ibu
bila bangun tidur, yang aku cari....ibu

bila nangis, orang yang pertama datang....ibu
bila ingin bermanja, aku dekati....ibu
bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu
bila sedih, yang dapat menghiburku hanyalah....ibu
bila nakal, yang memarahi aku....ibu




Apr 11, 2011

Recordando a Procissão do Senhor dos Passos na Paróquia de Motael (Diocese de Díli – Timor-Leste)

 
Um dos momentos mais significativos e luminosos da História da Salvação é a Paixão de Jesus Cristo, ou seja os acontecimentos que marcaram os últimos dias da vida de Jesus, desde a última Ceia até à sua condenação, crucifixão e sepultura.

Caríssimos irmãos: os momentos de sofrimento de Nosso senhor Jesus começam na última ceia: Jesus lava os pés dos seus discípulos, toma o pão nas suas mãos, o abençoa, parte e distribui aos discípulos. Tomando o cálix de vinho, diz: Este é o sangue da nova aliança, que será derramado por vos e por todos para a remissão dos pecados. Neste Gesto cheio de significado e profundidade, Nosso Senhor entrega-nos a sua própria vida, o seu corpo, o seu sangue, toda a sua pessoa.

Para obedecer à vontade do Pai, Jesus ao monte das Oliveiras, fazer a sua oração: Getsémani é o horto das oliveiras, o horto da angústia, o horto do sono dos discípulos. No Getsémani Jesus experimenta quanto é difícil a obediência, a aceitação da vontade do Pai. No Getsémani, os discípulos dormem, enquanto Jesus ora. Os discípulos são incapazes de velar e acompanhar a agonia do Mestre, a sua solidão, a sua aceitação do cálice amargo da Paixão. Entretanto chega um dos seus discípulos, Judas Iscariotes que cumprimenta: Mestre, e dá-lhe um beijo de traição. È terrível sentir-se atraiçoado, vendido por uma migo. Nunca se poderá justificar a primazia do dinheiro sobre a amizade verdadeira, o amor. Judas estava na ceia com Cristo e em companhia dos Apóstolos; ninguém adivinhava o que ia fazer. E saiu para a noite negra da traição. Judas deu um falso beijo para entregar o Mestre, prostituindo o sinal nobre do amor. Beijou para atraiçoar.
 

DOCUMENTO SARZEDAS – 200 ANOS DE EXISTÊNCIA

 
Entre 1512 e1513, Francisco Rodrigues, o jovem cartógrafo português que tinha ido na nau de António de Abreu para descoberta das Ilhas Molucas, fez um desenho das ilhas visitadas, e entre elas aparece o mapa de Timor. Mas não se sabe exactamente o ano da descoberta da Ilha de Timor pelos navegadores portugueses. Sabe-se que em 1514, Rui de Brito Patalim, capitão de Malaca, escrevendo ao rei de Portugal, Dom Manuel I, dizia que Timor era “uma ilha além de Jawa, tinha muito sândalo, muito mel, muita cera”. Em 1522, a nau Vitoria sob o comando do espanhol Juan del Cano, tinha aportado às costas de Timor para a recolha de provisões. O cronista António Pigaffeta fala de encontro dos marinheiros com o chefe de Amaban, na costa norte, e na costa sul, tinham ouvido falar de quatro reis que eram irmãos: os reis de Cabanaza, Suai, Oebich e Likusaen.

Na segunda metade do século XVI, aparecem as primeiras referências sobre Timor nas crónicas dos frades dominicanos. Ao longo do século XVII, eram muitas as descrições sobre o trabalho dos missionários dominicanos em Timor. Basta lembrar a Historia de São Domingos, da autoria dos frades Lucas de Santa Catarina, Luís de Sousa, João dos Santos. Ao longo do século XVII, sobretudo, a partir de 1702, no começo do governo António Coelho Guerreiro, o material escrito sobre Timor era mais abundante. Os relatórios dos governadores eram enviados a Goa em navios que levavam meses até chegar ao seu destino. Porém, até os inícios do século XIX não havia um documento sobre Timor que fosse de uma estrutura bem elaborada.
 

Mengenal, Mencintai dan Membangun Timor

Oleh: Nuel Lelo Talok

Abad-abad berlalu. Jutaan bahkan miliaran manusia dan pelbagai makhluk lainnya, lahir, tumbuh, hidup, berkembang, kemudian mati di tanah ini. Musim kemarau, alam menjadi kering kerontang, hawa panas menyengat. Tiba musim hujan, semua tumbuh menghijau, hawa sejuk, alam menjadi asri, teduh, tenang, keceriaan dan kehangatan hati terpantul lewat senyuman polos nan bahagia, ketika musim panen jagung muda tiba. Toh kadang angin badai, dingin, gagal panen, banjir, longsor, gunung meletus, gempa, kebakaran, pembunuhan, perang saudara terjadi di pulau ini.

Ya, begitu banyak waktu, kejadian dan tak terhitunglah penghuni pulau ini. Begitu tidak bisa terekam semuanya. Namun, sebagai generasi muda Tanah Timor di masa sekarang dan di sini (hic at nunc), marilah kita mencoba menoleh ke belakang, mengolah batin sejenak dan berfikir secara matang di masa sekarang, demi menyongsong masa depan yang jauh lebih cerah bagi kita penghuni bumi Timor, demi kehormatan leluhur di masa lampau dan demi kesejahteraan anak cucu kita tercinta kelak.

Entahlah kapan dan siapa pertama kalinya menyebut pulau ini TIMOR!

 

Likurai

Puisi: Nuel Lelo Talok

Wajah-wajah ayu itu telah berdandan
Membalut diri dengan kebaya cantik dan tais futus(1)
Bermahkotakan kaebauk(2)
Di dada tergantung belak(3)
Di leher terjuntai morten(4)
Tangan berhiaskan riti(5)
Aduh moleknya Ina no Bete sia(6)
Pesta pun siap dimulai!
Kesusahan hidup akan dilupakan untuk sehari itu
Mengapit tihar(7) di ketiak
Membawa serta tala(8)
Menabuhnya
Meritmikkannya dengan penuh seni
Bernas
Sakral
Bahagia
Mulia
Hentakkan kaki dan lenturkan tubuh
Menari-nari
Berayun-ayun
Menantang kaum pria
Kaum pria mana tahan?
"Ayo kita pun ikut haksoke(9)”
Dan suasana pun riuh rendah
Beria-ria
Lupa waktu
Lupa derita
Sampai ekstasì

Apr 9, 2011

Kisah Pahlawan Sejati (tak lekang oleh waktu)


Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay

Psing... Psing... Psing... Bunyi ribut uap panas yang terbentur di dinding box aluminium terdengar di kejauhan. Makin lama makin dekat dan tentunya makin membuat bising. Saya coba keluar rumah dan ternyata ada penjual kue putu pikulan yang lewat menjajakan dagangannya. Sepintas saya tak tergerak untuk membeli kue ini, namun karena perut sudah kosong dan sudah saatnya harus diisi dengan sedikit cemilan, pilihan membeli kue putu pun tak dapat ditolak. Lagian penjaja asongan lainnya belum lewat. Sementara memesan, pak Aris (51) bapak tiga anak dan kakek dua cucu ini mulai menceritakan kisah-kasihnya berjualan kue putu. Sedikit saja saya melontarkan tanya soal suka-dukanya, pak Aris langsung bercerita panjang.

“Saya berjualan kue putu sejak 1980. Waktu itu saya sempat jadi kuli bangunan, namun karena pekerjaan ayah saya tidak ada yang nerusin akhirnya saya terpaksa mewarisi kerjaan ayah. Ayah merupakan penjaja kue putu pertama di wilayah Pondok Ranggon dan Kranggan. Ia berjualan sejak masih muda, waktu itu wilayah sini masih hutan semua,” kenang pak Aris.

IELTS tips from successful students’ trainer

IELTS tips from successful students’ trainer

Apr 8, 2011

The five things about IELTS that people are most afraid of – and how to overcome Them



Article contributed by Simone Braverman, IELTS-Blog.com

Nobody likes exams. They make people nervous and uncomfortable. They undermine students’ confidence and stress them out. In the most extreme cases people simply panic and lose the ability to think clearly.

IELTS is no different and for many people that is a problem. There are many parts of IELTS that can be intimidating unless you know how to handle them. People are afraid of the unknown, and the solution is to get familiar with all the “scary” aspects of the IELTS exam. Take the element of surprise out of IELTS and these fears will fade away.

Here are the 5 things people are afraid of the most about IELTS:

Apr 7, 2011

ISSUE UNTL vs UNTAS : Pe. Neonbasu: Dosa Besar Manipulasi Tulisan Orang, Filomeno: “Kami Siap Dialog Dengan Mahasiswa UNTL”


ATAMBUA-Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Pastor Gregorius Neonbasu, SVD, Ph.D menegaskan dirinya mengutuk orang yang memanipulasi tulisannya soal UNTAS (Uni Timor Aswain) dan menilai perbuatan seperti itu adalah dosa besar dan melanggar hukum.

“Saya kutuk mereka yang memanipulasi tulisan saya dan saya akan tuntut mereka secara hukum,” kata Pastor Neonbasu menjawab koran ini ketika dihubungi via telepon selularnya di Kupang, Jumat (1/4) malam.

Direktur Puslit MANSENSAE Kupang ini juga mengatakan memalsukan karya orang lain untuk kepentingan politik tertentu adalah dosa dan melawan hukum. “Saya baru tahu kalau tulisan saya tentang UNTAS dimanipulasi di Timor Leste. Baik, saya akan pelajari dulu baru saya sampaikan sikap saya melalui koran Anda,” tuturnya.

Tebes ou Bosok UNTAS iha Parlamentu e Governu? (updated)

Ohin loron seguransa ho estabilidade iha Timor-Leste lao diak tebes. Ema livre lao kalan to’o loron. Agrikultores sira bele halo nia natar ho tos ho hakmatek. Komersiantes sira faan ninia sasan ho livre. Faan nain sira ain lima bele faan ninia sasan hosi kalan to’o dader ho hakmatek. La iha krimi bot sira. Iha krimi kikuan balu maibe sei iha limite normal nia laran. Karik ita kompara ho rai sira iha Afrika, Amerika Latina e Asia balu, Timor-Leste nia seguransa ho estabilidade sei diak liu rai barak nian. Timor-Leste esforsa an nafatin hodi hametin liu tan ninia seguransa ho estabilidade hodi fo fatin ba dezenvolvimentu nasional, dezenvolvimentu nebe sei lori moris diak ho hakmatek ba Timor oan tomak.

 

Valoriza Ita Nia Literária Rasik: Udan Foho Ninian

Valoriza Ita Nia Literária Rasik: Udan Foho Ninian: Tanba rai ne'ebe kikoan Bainhira lilin rate nian nabeen Buang sira re'in malu, Kalohan sira bidu iha leten aas ba,..."

Kisah Lucu Dalam Derita Perjuangan Kemerdekaan TL

"Kamu pun Kurang Ajar, Itu Juga Indonesia punya".


Adalah seorang pemuda Timor Leste, baru saja kembali menghantarkan bekal/makanan ke hutan belantara untuk para gerilyawan. Setelah berhasil menyelundupkan makanan ke hutan melalui para stafet jaringan bawah tanah (klandestin), ia berjalan santai pulang melewati pos penjagaan ABRI/TNI, terlihat seperti tidak ada masalah. Tetapi dia tidak lolos dari pemeriksaan. Salah seorang angoota ABRI yang sedang bertugas, memanggil si pemuda dan memerintahkan untuk menghadap komandan.