Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay
| Ermalindo Sonbay Bersama Dubes Vatikan untuk INA dan TLS |
Cerita tentang cita-cita dan impian, lebih banyak akan menyimpang di perempatan, perlimaan atau mungkin pertigaan kehidupan pasti yang selalu tak pasti. Namun, yang akan mendorong manusia maju, bukan hasil akhir dari impian, namun motivasi yang ada dalam impian yang sempat mampir di benak. Kekuatan inilah yang menjadikan proses menjadi manusia enak untuk dinikmati. Dalam proses ini pula aturan-aturan khas pribadi tertentu terbentuk (rule making) setelah kemapanan dan kenyamanan generasi terdahulu hancur (rule breaking).
Paling kurang pada konsepsi ini Mao Tse Tung benar bahwa keterlibatan dan historisitas manusia akan berujung pada konsistensi membarui bahkan ber-revolusi. Jambu menurut para tetua enak dan nikmat. Dan yang ada dalam diri hanyalah keinginan untuk mencoba. Jambu dinikmati dan rasanya enak. Pada saat yang sama, pada saat rasa nikmat itu mengelilingi indra dan pesannya sampai ke akal budi, jambu itu bukan lagi jambu. Jambu itu sudah menjadi jambu yang berubah, jambu yang tidak utuh. Tapi perubahan (tentunya yang berorientasi positif) yang berwarna konstuktif akan meninggalkan bekas yang tentunya menjadi tese baru bagi generasi mendatang untuk direvisi, dinegasi bahkan dilawan secara langsung.







