e-mail: jan3b.30179@yahoo.com

My Photo
Hatu Liurai Street, Bia Rua - Lolocolo!, Atabae, Bobonaro, Timor-Leste

Masa Depan Status Mata Uang Negara Timor-Leste

A. Latar Belakang

Pada tahun 1990-an dimana pergerakan strategi rakyat Timor-Leste untuk mencapai kemerdekaan dan menjadi negara independent, telah memikirkan secara teratur akan pembentukan struktur pemerintahan serta sistem yang akan dianut. Keadaan ini sangat terasa dalam batin secara utuh akan terelesiasinya tempo kemerdekaan adalah hanya masalah waktu yang tidak lama lagi. Dan akhirnya semua kenyataan akan mimpi sebagai negara independent terujud dengan teratur dan sistematis pada tanggal 4 September 1999 (tanggal dimana Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNAMET mengumumkan hasil referendum untuk masa depan rakyat Timor-Leste).

Proses pengisian awal hari-hari kemerdekaan sudah tentu bukanlah suatu proses yang mudah dalam menata kembali aktivitas politik, ekonomi dan social. Negara-negara pendonor dalam mengakses bantuannya baik melalui pemerintah maupun Non government organization (NGO) bergerak menelusuri daerah-daerah yang dianggap berada pada kelas ekonomi sangat miskin, sedang, dan kurang miskin untuk mendapat bantuan selayaknya.


Untuk menangani permasalahan ekonomi di sisi penggunaan alat tukar pada transaksi jual-beli masyarakat Timor-Leste, maka perjalanan awal tahun 2000-an melalui pemerintahan sementara PBB yakni UNTAET (United Nations Transition Administration in East Timor) bersama para elit politik Timor-Leste menentukan penggunaan dollar Amerika sebagai mata uang legal sementara, yang mana pada akhirnya juga melalui sidang umum dewan perwakilan rakyat Timor-Leste atau disebut Parlemento Nacional Timor-Leste tetap menyetujui peredaran dollar Amerika tersebut di Timor-Leste hingga sampai sekarang.

Pertangahan tahun 2000-an bahkan awal tahun 2000-an pun, masyarakat kecil, para elit politik dan akademisi Timor-Leste selalu mendebatkan penggunaan dollar Amerika akan durasi waktu yang dibayang-bayangi oleh suatu pemikiran akan identitas rakyat Maubere yang keadaan politinya sudah berubah sebagai rakyat yang telah mendiami tempat tinggal sendiri sebagai negara independent dan berdaulat, sama halnya egara-negara lain di seluruh belahan dunia. Identitas yang dimaksud adalah setidaknya rakyat Timor-Leste dapat menggantikan mata uang dollar Amerika ($) dengan mata uang Timor-Leste yaitu BELAK atau sejenisnya yang dilengkapi dengan simbol tertentu. Salah satu langkah kongkrit awal adalah telah memproduksi koin dengan nama CENTAVOS (0.05 centavos, 0.25 centavos, 0.50 centavos).

Namun hingga kini belum melangkah pada tingkat berikutnya yakni dalam bentuk KERTAS. Proses ini dapat digambarkan bahwa rakyat Timor-Leste menyadari dengan baik akan berbagai kelemahan dan kelebihan dari berbagai factor yang ikut mempengaruhi secara sistemik bahkan secara alamiah, jika melangkah secara arogan untuk menciptakan uang kertas, terutama rakyat Maubere secara keseluruhan di masa yang akan datang, mengingat perkembangan penggunaan mata uang yang terus berubah di berbagai negara belahan dunia. Contoh aktual yang dapat dipetik adalah negara-negara eropa yang pada mulanya memiliki mata uang tersendiri, sekarang telah terhimpun satu kesatuan mata uang. Bahkan jika dikelompokkan menurut saya, dunia telah terhimpun dalam tiga (3) kelompok besar yakni: 1) EFTA (Europe Free Trade Area), adalah perhimpunan negara-negara eropa yang dalam perdaganggannya menggunakan mata uang EURO, 2) NAFTA (North Amerika Free Trade Area), adalah perhimpunan negara-negara Amerika bagian utara yang dalam perdaganggannya menggunakan mata uang dollar Amerika, dan 3) AFTA (Asia Free Trade Area) adalah perhimpunan negara-negara asia yang dalam perdagangannya menggunakan mata uang sendiri (walaupun saat ini belum terjadi dikarenakan struktur ekonomi, politik dan social negara-negara asia tertentu masih di bawah estandar kelayakan). Akan tetapi, jika diperhatikan dengan baik, di asia sendiri terutama asia tenggara telah terjadi langkah-langkan baik dalam proses politik yang telah ditempuh yakni telah terjadinya pembentukan assossiasi “ASEAN” (Association of South East Asia Nations). Berbagai langkah positif yang telah dicapai dalam masalah social, budaya, ekonomi dan politik, sampai pada saat ini telah mengalami kemajuan yang signifikan. Bahkan akhir-akhir ini ASEAN sendiri telah mengungkapkan pernyataan bahwa “ ASEAN BELUM MEMIKIRKAN MATA UANG SENDIRI “. Pernyataan belum memikirkan mata uang sendiri merupakan salah satu signal singkat dan sederhana untuk ditelaah, dimana dapat membawa kita pada analisis-analisis yang logis bahwa hampir pasti 75% kemungkinan pembentukan satu jenis mata uang negara-negara ASEAN dalam beberapa tahun ke depan.

Secara politik, negara Timor-Leste telah mendapat dukungan baik dari negara-negara Asean untuk menjadi bagian anggota Asean, walaupun masih diragukan oleh salah satu negara asean lain yakni Singapura. Namun dapat dipercaya bahwa statement politik dari negara Singapura ini dapat diklasifikasikan dalam suatu pengertian sederhana, yaitu “ PROSES “, yang sedang berjalan. Akan tetapi, negara Timor-Leste juga dapat melihat statement ini sebagai masukan positif untuk terus memperbaiki diri, terutama Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki dampak pada pembentukan manusia-manusia Timor-Leste dari sisi pembentukan security (keamanan) yang baik dan professional dalam menangani keamanan dalam negeri yang tentunya berimpak pada anggota asean lain nantinya, impak positif lainnya adalah jika keamanan baik, sector pertanian dan sejenisnya berkembang, pembangunan berjalan, kehidupan rakyat maubere makmur, dan pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan dengan sendirinya.

Perkembangan pemikiran tentang pembentukan mata uang sendiri terus diisukan dalam parlemen nasional Timor-Leste, terutama dari seorang anggota parlemen yang begitu kritis dalam berbagai perkembangan politik, ekonomi dan social, excelencia Manuel Tilman, dari partai KOTA. Ia menyuarakan pembentukan mata uang sendiri dikorelasikan pada pembahasan undang-undang perbankan (central bank) negara Timor-Leste, bahwa dengan berdirinya bank sentral, negara Timor-Leste dengan leluasa dapat menciptakan mata uangnya sendiri. Hal tersebut mendapat perhatian serius dari berbagai kelompok, sehingga pada sebuah seminar mini di Balibar-Dili, saya sendiri pernah mengangkat isu tersebut sebagai proposal untuk program kerja pemerintah Timor-Leste pada tahun berikutnya. Dalam seminar tersebut, mendapat perhatian serius dari excelencia Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmão, hingga beliau sendiri mengajukan agar hal ini perlu dipikirkan dengan baik dan harus melakukan studi-studi yang fundamental. Namun dalam seminar tersebut, saya juga mempersiapkan berbagai argument berdasarkan pada perkembangan keuangan dunia dalam melakukan transaksi, beserta berbagai factor yang mempengaruhi. Kesimpulan dari seminar tersebut adalah:

1) negara Timor-Leste tetap menggunakan mata uang dollar Amerika,
2) menciptakan mata uang sendiri (Timor-Leste dapat menentukan kebijakan moneternya sendiri), dan
3) masih tetap menggunakan mata uang dollar Amerika sambil menunggu perkembangan politik Asean, dan akhirnya terhimpun dalam satu mata uang negara-negara Asean nantinya”.

B. Analisis makro dan mikro ekonomi atas status mata uang Timor-Leste

Bersandar pada sentiment politik rakyat Maubere, tentunya sangat mengharapkan setidaknya identitas akan terciptanya mata uang sendiri dapat terujud. Pemikiran saya berada pada posisi sentiment rakyat Maubere. Namun harus memiliki kepercayaan diri yang teguh, kerja keras, disiplin, dan peningkatan sumber daya manusia yang berkesinambungan dan professional. Mengapa demikian..? Tetap pada kesimpulan di atas, makro ekonomi menuntut suatu negara setidaknya dapat menjawab berbagai problem vital yang terkandung dalam variabel-variabel makro ekonomi diantaranya adalah tingkat pendapatan nasional, konsumsi rumah tangga, investasi nasional, tingkat tabungan, belanja pemerintah, tingkat harga-harga umum, jumlah uang yang beredar, tingkat bunga, kesempatan bekerja, neraca pembayaran, dan lain-lainnya pada tingkat yang estabil. Pemenuhan makro ekonomi dapat terujud apabila proses mikro ekonomi ditangani dengan baik. Pembenahan sumber daya alam melalui aktivitas di bidang pertanian, peternakan, perikanan, migas, perbankan, usaha kecil menengah, pendidikan, kesehatan, keamanan, pariwisata, merupakan akar dari fluktuasi makro ekonomi, yang menurut saya makro ekonomi adalah tunas yang terus tumbuh dan mekar, dikarenakan suntikan makanan dari akar, yakni pembenahan mikro ekonomi.

Setidaknya beberapa bidang yang telah disebutkan di atas terus berkembang ke arah industri yang kokoh dan terus melukakan perbaikan-perbaikan yang bersifat inovatif guna memenuhi permintaan pasar yang berstatus kompetitif. Pasar yang ditempuh bukan saja pasar-pasar local, melainkan pasar-pasar internasional. Logikanya bahwa apabila perbaikan produksi dalam negeri meningkat dengan kualitas wahid di pasaran internasional dan tingkat permintaannya (demand) tinggi diimbangi oleh keestabilan tingkat penawaran (supply), secara otomatis kita mulai bangga dan berbicara bahwa nilai eksport meningkat dan efeknya berimpak pada devisa negara kita akan bertambah. Apabila keadaan ini telah dicapai dan terus dipertahankan, hikmahnya bahwa saat ini juga kita dapat memproduksi mata uang sendiri, walaupun kita akan mengeluarkan sejumlah biaya untuk memproduksi (cost production pada negara pemenang tender produksi mata uang negara) model mata uang negara Timor-Leste.

Mengulas sedikit tentang cost production mata uang negara Timor-Leste harus dilakukan di negara lain berhubung kemampuan sumber daya tekhnologi yang kita miliki tidak ada, karena meciptakan mata uang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :a). Dapat Diterima oleh Masyarakat Umum, Uang yang beredar harus dapat diterima oleh masyarakat umum karena masyarakat percaya bahwa uang tersebut dapat digunakan sebagai alat tukar dan alat pembayaran, b) Mudah Disimpan dan Nilainya Tetap, bahwa uang yang beredar di Negara Timor-Leste mudah disimpan. Bentuknya kecil sehingga praktis menyimpannya. Kita dapat menyimpan uang di saku maupun di dompet karena ukuran uang tidak besar. Contoh uang negara tetangga Indonesia bernilai Rp10.000,00 yang kita simpan di saku selama seminggu tetap bernilai Rp10.000,00. c) Mudah Dibawa ke Mana-mana, Uang kertas dan uang logam mudah dibawa ke mana-mana karena ukurannya kecil dan tidak berat. Namun demikian, jika kalian mempunyai uang logam cukup banyak agak berat untuk membawanya. Kalian dapat menukarkannya dengan uang kertas dengan nilai yang sama. d) Mudah Dibagi Tanpa Mengurangi Nilai, Jika kita mempunyai selembar uang kertas ratusan ribu rupiah dan ingin menggunakannya untuk membeli buku seharga Rp20.000,00, kita tidak mengalami kesulitan. Penjual buku akan memberikan uang pengembalian Rp80.000,00. Dengan demikian, selembar uang ratusan ribu rupiah tersebut dapat dibagi tanpa mengurangi nilainya, e) Jumlahnya Terbatas Sehingga Tetap Berharga, Uang kertas dan uang logam dicetak dengan jumlah terbatas untuk menjaga nilainya. Uang tersebut juga dibuat dari bahan khusus dan diberi ciri khusus sehingga sulit untuk dipalsukan, f) Ada Jaminan , Uang yang beredar di Timor-Leste dijamin oleh pemerintah. Oleh karena itu, semua orang mau menerima uang sebagai alat pertukaran dan pembayaran yang sah. Uang kertas yang beredar merupakan uang kertas kepercayaan (fiduciary) atau uang tanda (token money). Disebut uang kepercayaan karena nilai bahan untuk membuat uang jauh lebih rendah daripada nilai yang tertera (tertulis) dalam uang. Uang kertas juga merupakan uang tanda, karena masyarakat bersedia menerima uang kertas dengan alasan terdapat tanda sah sebagai uang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Keenam poin dari penjelasan sifat mata uang dapat disederhanakan pada kalimat diferensiasi. Apabila dapat ditiru dan tidak dapat dideteksi atau terkontrol dengan baik, maka kerugian negara akan semakin besar.

Proses nilai tukar yang akan terjadi nantinya terhadap mata uang dalam negeri sangat tergantung pada devisa negara yang mampu dimiliki oleh suatu negara, identiknya adalah dari nilai eksport yang tinggi, namun bukan hanya pada bahan mentah, melainkan bahan produk jadi juga. Karena dapat dipercaya bahwa nilai kurs mata uang akan selalu bersandar pada demand and supply himpunan devisa negara. Namun juga dapat dipercaya bahwa depresiasi/apresiasi kurs terkadang juga dapat terjadi sebaliknya, yaitu pada saat persediaan (supply) devisa negara sedang estabil bahkan meningkat, bank sentral dapat mendepresiasi nilai mata uang (kurs) dalam negeri terhadap mata uang asin. Contoh aktual yang pernah terjadi saat ini adalah kebijakan negara China atas mata uangnya (yuan atau RMB) terhadap dollar Amerika, dimana China mendepresiasi yuan/RMB terhadap dollar Amerika, dan akhirnya pemerintah Amerika melalui suatu rapat pembahasan proposal perubahan pemberlakuan tarif pajak mencapai 23% yang hanya dikenakan terhadap barang import China ke Amerika, disetujui oleh konggres Amerika. Keputusan ini akhirnya dapat melunakkan China untuk merevaluasi/apresiasi Yuan/RMB pada posisi semula, walaupun pada mulanya China sedikit menyindir akan campur tangan WTO (World Trade Organization) tentang free trade. Sebaliknya, kejadian lain terjadi pada salah satu negara di Afrika mendevaluasi nilai mata uangnya dibawah standar normal terhadap dollar Amerika, namun sedikitpun negara Amerika tidak pernah mengubris dan membiarkannya berlaku. Keadaan ini dapat kita pahami secara logika bahwa, memang betul kemampuan eksport negara Afrika belum dapat menjangkau pasar-pasar internasional (terutama ke Amerika) untuk menciptakan persaingan. Sedangkan China….dapat menerobos hampir di seluruh belahan dunia dengan produk berkualitas tinggi dan harga murah (walaupun yang terjadi di Timor-Leste adalah sebaliknya). Apabila Amerika tidak mengambil kebijakan tarif 23% terhadap produk China pada waktu itu, maka produk-produk dalam negeri Amerika akan kalah bersaing, bahkan banyak perusahaan Amerika sedikit demi sedikit akan gulung tikar (bangkrut) karena tidak mampu bersaing, dan dapat memicu gejolak social baru di Amerika pada problem unemployment.

C. Kesimpulan

Apa yang terjadi di negara kita, Timor-Leste..? Bagaimana dengan neraca perdagangan, aktivitas eksport/import, tingkat pencari kerja, produktivitas nasional dan lainnya yang terselubung dalam definisi makro dan mikro ekonomi..? Sebagai negara baru tentu masih dibawah estandar jika dikaitkan pada pembahasan di atas. Akan tetapi menurut saya kita masih berada pada keadaan yang baik dan mulai mengarah pada tujuan yang sebenarnya. Hasil penjualan migas merupakan tulang punggung unik disamping hasil perkebunan kopi sebagai result eksport untuk membiayai pembanggunan negara dan rakyat Maubere yang total penduduknya mencapai 1,066,000 jiwa. Praktisnya, perlu terus mengalang perbaikan serta pengembangan pada sector-sektor vital seperti keamanan, pendidikan formal dan informal (kursus professional) dan kesehatan manusia Timor-Leste, untuk mengelolah berbagai persediaan sumber daya alam yang ada dalam menatap masa depan rakyat Maubere yang cerah.

Terfokus pada topik dalam artikel ini, negara Timor-Leste berada pada kebimbangan menentukan nilai mata uang sendiri. Dilematis ini muncul sejalan dengan perkembangan jaman yang mana memaksa kita untuk terus berpikir dalam menentukan masa depan pembangunan ekonomi yang cerah. Dalam kesempatan ini saya dapat memberikan rangking atau nilai dalam bentuk persentase (%) sebagai keputusan tentang penggunaan jenis mata uang dari ketiga alternatif yang telah dibahas pada masa yang akan datang, antara lain sebagai berikut:

1. Negara Timor-Leste tetap menggunakan mata uang dollar Amerika, 25%,
2. Negara Timor-Leste harus menciptakan jenis mata uang sendiri, 40%,
3. Negara Timor-Leste masih tetap menggunakan mata uang dollar Amerika sambil menunggu perkembangan politik Asean, dan akhirnya terhimpun dalam satu mata uang Negara-negara Asean nantinya, 35%.

Persentase ini berlaku pada keadaan citeris paribus, artinya bahwa factor-faktor lain yang mempengaruhi seperti keamanan, perkembangan penjualan migas, pertanian, perkebunan, usaha kecil-menengah, pariwisata, perbankan dan lainya berada pada posisi stabil bahkan terus bertambah baik.

Percayalah, bahwa negara Timor-Leste berada pada posisi ketiga alternative di atas, dalam menentukan jenis mata uang di masa yang akan datang.

Demikian.

By; Vianco F. de A. Carvalho, L.Ec, MM (Tesis akhir espesifikasi Finance). Alamat: Audian Santa-Cruz, Dili Timor-Leste, Kerja di SEFOPE. No. Hp : +670 736 1792 - Artikel ini dimuat di Harian Suara Timor Lorosae, edisi Senin, 19/9/2011

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts All Time