Apr 9, 2011

Kisah Pahlawan Sejati (tak lekang oleh waktu)


Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay

Psing... Psing... Psing... Bunyi ribut uap panas yang terbentur di dinding box aluminium terdengar di kejauhan. Makin lama makin dekat dan tentunya makin membuat bising. Saya coba keluar rumah dan ternyata ada penjual kue putu pikulan yang lewat menjajakan dagangannya. Sepintas saya tak tergerak untuk membeli kue ini, namun karena perut sudah kosong dan sudah saatnya harus diisi dengan sedikit cemilan, pilihan membeli kue putu pun tak dapat ditolak. Lagian penjaja asongan lainnya belum lewat. Sementara memesan, pak Aris (51) bapak tiga anak dan kakek dua cucu ini mulai menceritakan kisah-kasihnya berjualan kue putu. Sedikit saja saya melontarkan tanya soal suka-dukanya, pak Aris langsung bercerita panjang.

“Saya berjualan kue putu sejak 1980. Waktu itu saya sempat jadi kuli bangunan, namun karena pekerjaan ayah saya tidak ada yang nerusin akhirnya saya terpaksa mewarisi kerjaan ayah. Ayah merupakan penjaja kue putu pertama di wilayah Pondok Ranggon dan Kranggan. Ia berjualan sejak masih muda, waktu itu wilayah sini masih hutan semua,” kenang pak Aris.


Aris mengulang kata orang-orang yang selalu bilang dagangan kue putu tidak bakalan kaya. Namun, dia punya alasan tersendiri melestarikan usaha keluarganya. Selain sebagai pengabdian kepada ayahnya yang sangat ia cintai, dagangan kue putu melatihnya untuk memaknai hidupnya secara khas.

“Sehari paling banyak cuman dapet dua puluh ribu. Kalau laris yah untungnya bisa dua puluh lima. Sekarang serba susah. Minyak tanah naik, beras naik, modal utama sebenarnya bukan uang, Cuma nekat doang,” jelasnya.

Kue putu pak Aris dijual enam ratus rupiah per buah. Terkadang ada pembeli yang memberi uang lebih. Harga kue putu sendiri baru naik enam bulan terakhir.

“Sebelumnya tiga ratus sebuah. Waktu awal saya mulai dagang masih 10 perak sebuah. Tapi jaman itu laris. Bahkan saya bisa membeli sepeda dayung dalam setahun karena dagangan. Sejak 1990-an orang mulai meninggalkan kue putu dan pindah ke yang lain. Sejak itu saya mulai merasakan sedikit kesulitan, apalagi waktu itu anak saya udah harus menikah. Tapi saya tetap ikhlas dagang ginian,” lanjutnya.

Setiap hari Aris secara tidak manusiawi dan tidak adil harus berlomba dan berkompetisi dengan para pedagang roti keliling yang kini menggunakan sepeda motor, lengkap dengan keranjang yang cepat. Ia harus berkompetisi dengan para pemilik brand roti dan cemilan luar biasa yang bisa mengklaim jatah tempat di mall-mall besar. Ia harus beradu dengan mereka yang bisa memasang iklan di semua media.

“Saya jalan kaki setiap hari. Dari rumah ke sini saja tujuh kilo. Setiap hari minimal saya jalan sambil mikul ini sepanjang dua puluh kilo. Ini nasib saya, yah disyukurin saja, saya sudah terlahir sebagai orang kecil,” kali ini dia agak mengeluh.

Aris, satu dari ratusan juta warga Indonesia yang tidak dipedulikan. Aris tidak bisa memasang iklan untuk kue putunya. Aris tidak bisa mendatangkan lembaga peneliti dari luar negeri untuk menguji dan merekomendasikan produknya. Aris tidak bisa memakai jasa retail-retail bisnis dari yang kecil hingga yang besar. Aris hanya tegar sebagai orang Indonesia, yang dimerdekakan Tuhan lewat ketegaran Soekarno-Hatta berpuluh tahun silam.

Mungkin dia tidak pernah sampai pada pemikiran, bahwa negara ini didirikan Soekarno dan Hatta untuk mengangkat derajatnya sebagai wong cilik. Namun, tentunya dia iri dengan perlakuan tak seimbang negara kepada mereka yang dijuluki konglomerat. Ini  bukan soal kue putu yang dia wariskan dari orang tuanya. Ini soal kesempatan menjadi baik yang terkadang cenderung hanya berkiblat pada mereka yang berduit, mereka yang mampu menjilat, mereka yang mampu membuat BAPAK SENANG.

Aris masih terus berjuang. Sekalipun kelihatannya perjuangannya sia-sia. Para kapitalis dan konglomerat yang terus ‘berselingkuh’ dengan para pengambil kebijakan masih bisa dilawan. Dengan cara sederhana, dengan cara bersahaja, dan tentunya dengan cara Indonesia.

Jakarta, 01042011

No comments: