e-mail: jan3b.30179@yahoo.com

My Photo
Hatu Liurai Street, Bia Rua - Lolocolo!, Atabae, Bobonaro, Timor-Leste

Bahaya Laten Soehartoisme

Sebelum KANGEN itu Membunuh

Panik. Mungkin ini sedikit tepat menggambarkan suasana Indonesia saat ini di tengah berbagai gejolak ekonomi dan politik yang tiada bertepi. Reformasi yang dilahirkan paksa dan prematur akhirnya membentuk sebuah kubangan yang kian besar. Reformasi seperti ini juga yang melahirkan perkawinan tak senonoh antara generasi pembaru dan mereka yang bergantung mutlak pada konservatisme, status quo ante dan kebiadaban yang tak disadari. Radikalisme yang sebenarnya mutlak diperlukan ketika menyusur tengahan 1998 ternyata digembosi oleh dedengkot-dedengkot Orde Baru yang otomatis akan mempertahankan warna khas Soeharto.

Kepanikan di antara memilih Revolusi atau Reformasi ketika itu akhirnya menyudutkan bangsa ini kepada pembiakan semakin banyak generasi yang terdistorsi oleh kooptasi kekuasaan tunggal. Di level ini saja secara umum Reformasi sudah ‘gagal’ apalagi dalam praksis menjalankan tata pemerintahan yang kritis. Mentalitas kultus menjadi warna tunggal birokrat yang diisi oleh kroni-kroni tak kompeten dan legislator yang lebih banyak hanya menjadi kelompok oligarkis, yang sudah pasti melulu mendahulukan kepentingan kelompok dan massa penjilat mereka.


Kepanikan ini pula yang kian hari kian menajamkan kebingungan akan arah baru yang mau diretas kembali. Sebenarnya ihwal me-revitalisasi alasan pendirian Indonesia a la Soekarno dan Hatta sebagai jantung reformasi cukup berhasil, namun idealisme ini berganti wajah ketika situasi praktis masyarakat tidak lagi bisa diantisipasi. Gaya saweran yang sangat dangkal serta dilengkapi dengan kontrol yang lemah seperti tertuang dalam kebijakan BLT, subsidi BBM dan pengelolaan Jamkesmas menjadi salah satu contoh bahwa reformasi boleh jadi maju sebagai ideal, tetapi hanya jalan-jalan di tempat di lingkup praksis.

Rakyat yang apatis akan menguat dan akan ada dua arah berlainan yang tidak saling pototng atau seiring dalam pemerintahan dan demokrasi di negara ini. Pemerintah jalan di jalannya dan rakyat menenun pola apresiasinya sendiri. Tentunya tekanan akan ada di pihak rakyat yang dalam banyak hal tidak bisa melahirkan kebijakan yang pro-diri mereka. Dan nasib the underdogs bangsa ini yang coba diangkat dan dihargai Soekarno pasa awal-awal kemerdekaan kembali dikubur dalam lubang berlapis beton.

Ketidakpercayaan terhadap pemerintah akan menguat hari demi hari. Keterpilihan yang kuat bagi SBY episode II akan melemah hari demi hari.

Kerinduan akan model pemerintahan Soeharto menjadi salah satu solusi yang coba dipelintir sekelompok elite pada figur dan gaya Soeharto. Akan tetapi, mereka yang memelintir lupa bahwa kanal pembelajaran politik rakyat yang dibendung selama ini telah dilepas. Rakyat sudah pintar, bahkan untuk beberapa kasus ‘lebih pintar’dari semua yang mereka pilih yang kini duduk di senayan dan merdeka utara dengan label memangku amanat rakyat.

Kalau mau ditelisik, kejatuhan Soeharto bukan satu-satunya karena ia memerintah dengan otoriter dan bertangan besi. Soeharto selain totaliter juga memimpin dengan kekuatan serentak penyakit seribu kepala yang saat ini juga tengah menggerogoti pemerintahan 60 persen suara ini. Soeharto jatuh karena orang-orang sekitarnya turut mengambrukan dia dengan pujian yang disertai bantingan, anggukan kepala yang berujung pada tendangan keras mematikan.

Lantas, salah satu bahaya laten Soeharto yang paling kuat bukan terletak pada sikap politik dan kebijakan ekonominya, melainkan pada ketergantungannya yang kuat pada sikap dan manuver ring 1-nya yang dengan seenaknya mengklaim kebenaran sepihak demi memuliakan mentalitas Asal Bapak Senang. Fakta ini pula yang sedang mengancam pemerintahan SBY dan dengan sendirinya negara indah di antara dua benua dan dua samudera ini. Boleh jadi Doktor SBY jauh lebih pintar dari Soeharto yang tidak pernah jelas gelaran akademisnya, namun dalam menanggapi gempuran ‘orang dalam’ siapapun dia bisa saja hancur. Logika yang dipakai bukan keutamaan akal, melainkan bela rasa yang sepantasnya disebut subjektif.

Soeharto mungkin saja saat ini mengisi rasa kangen mereka yang sudah tua dan sedang memiliki pikiran tua, namun bahaya laten Soehartoisme yang lebih membekas pada permainan lingkaran satu adalah hal paling menakutkan yang sedini mungkin harus diantisipasi. Saya tidak mau mengorbankan rasa kangen saya dua belas tahun yang akan datang kepada SBY, jika ia akhirnya ‘menyerah dan hancur’ karena permainan cantik dan licik orang-orang dalam. Pembersihan mutlak perlu, kalau mau negara ini selamat dan aman untuk HIDUP SERIBU TAHUN LAGI!!

Ermalindo AJ Sonbay
Di depan poster Soekarno dan Gie
Rangkui, Pangkal Pinang, Juni 2011

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts All Time