e-mail: jan3b.30179@yahoo.com

My Photo
Hatu Liurai Street, Bia Rua - Lolocolo!, Atabae, Bobonaro, Timor-Leste

Mari Pulang, Belum Terlambat!

BERSAHABAT dengan TEKNOLOGI [JANGAN SALING MENAKLUKKAN!]

Oleh: Ermalindo Albinus Joseph Sonbay


Pernahkah anda berpikir sejenak untuk kembali ke dekade sebelum 1990-an? Masa di mana gejolak komunikasi virtual dan digital belum merebak. Masa di mana tulisan tangan, surat yang dikirim via pos, ucapan-ucapan pada peristiwa dan perayaan besar terasa asli dan alami. Masa di mana rutinitas harian tidak terganggu oleh bunyi dering dan getaran benda-benda super modern, kecil namun isinya seluruh dunia.

Yah, mada itu telah lewat, bahkan tidak lagi memiliki tempat yang utuh di ingatan apalagi kerinduan. Masa komunikasi asli yang mungkin saja merupakan titik tertinggi komunikasi antar-manusia. Jaman itu, orang bisa menghabiskan sepiring nasinya plus segelas teh mungkin tanpa diganggu dering gadget. Rasa nasi nikmat dan sempurna. Tidur malam menjadi penuh tanpa panggilan masuk apalagi dari sales kartu kredit yang menawarkan jasa layanan dengan keuntungan bla bla bla.


“Kamu cepat sekali pulangnya. Seperti mengambil api saja,” demikian kata-kata ibu saya terhadap kunjungan saudara saya yang singkat ke rumah kami, tentunya waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Yah, kalimat-kalimat itu sudah hilang terbawa arus waktu. Orang dulu masih bisa mengambil bara api dari tetangga dengan satu-dua basa-basi tanpa takut ledakan gas, kebakaran akibat sambungan arus pendek dan lain sebagainya. Jaman itu dengan sarana komunikasi dan dukungan wahana transportasi yang minim, orang bisa menghasilkan kualitas hidup yang maksimal. Bukan untuk mengkritisi jaman ini atau lari dari jaman ini, tapi ada sesuatu yang hilang.

Anggap saja yang hilang itu sudah tidak mau digunakan lagi oleh masyarakat jaman ini. Namun, kalau begitu jika yang hilang itu dinamakan identitas, maka apa yang didefinisikan Habermas bahwa masyarakat didefinisikan berdasarkan tindakan sosialnya sangat tepat. Ada sedikit unsur intersubjektif di mana masyarakat ‘dipaksa’ secara sadar dan tidak sadar untuk mengangguk pada persetujuan dan konsensus yang sebenarnya harus bersandar pada pemahaman mengenai “mengerti dengan baik” sesuatu itu.

Agar lompatan ini bisa langsung dimengerti, bisa diandaikan saja bahwa ponsel-ponsel keren dengan layar-layar canggih itu jatuh dari langit. Namun, keterlemparan teknologi itu telah membuat begitu banyak orang bukan saja lompat kelas, melainkan lompat kultur dan lompat pribadi. Begitu banyak warga negara ini yang belum mahir (kalau tidak mau disebut buta huruf) membaca dan menulis, namun survei salah satu provider seluler mengatakan bahwa hampir setengah penduduk negara ini menggunakan jasa mereka. Syukurlah kalau 18 juta penduduk yang tidak bisa membaca dan menulis atau 40 juta penduduk berpendidikan rendah (droop out SD) tidak masuk dalam kelompok setengah pengguna tersebut. Pelompatan ini juga berarti sebuah goncangan budaya (shock cultur) yang luar biasa. Kekhasan ngelenong dalam etnis Betawi misalnya, saat ini berapa persen warga berbudaya Betawi yang mengerti dengan baik tentang lenong. Kompleksitas ini tidak bisa dijawab dengan kesadaran dan langkah kritis generasi muda.

Delapan puluh persen anak usia Sekolah Dasar di Jabodetabek misalnya menghabiskan rata-rata enam jam sehari untuk bermain game on-line. Lantas, belum tentu dua puluh persen sisanya memelihara tradisi lenong. Apalagi dari sisi komersil, lenong yang naik kereta kuda harus hadap-hadapan dengan sinetron dan acara musik serta reality show televisi yang meluncur dengan pesawat supersonik.

Pernahkah anda berdiam sejenak, membayangkan atau mungkin merindukan yang hilang itu? Merindukan keceriaan anak-anak saat bermain bersama, membangun jati diri komunal bangsa ini tanpa kata-kata kasar, adegan-adegan keras yang didapatnya dari game-game pukul-memukul dan bunuh-membunuh? Sesuatu yang hilang itu telah pergi, boleh jadi ini kepergiannya untuk selamanya.

Kata Juergen, selama kita masih menjadikan orang lain sebagai objek, strategi dan instrumen, tidak ada pembicaraan di dunia ini. Mari dan masuklah dalam komunikasi yang sesungguhnya. Tindakan yang komunikatif dengan mempersembahkan kekhasan yang kita miliki. Bukan sekadar n’jiplak apa yang datang dari Barat, apa yang di-bagus-kan di televisi, pun apa yang tertulis di layar-layar monitor gadget super-modern.

Kaki Gunung Dempo, Awal Mei 2011
Saat saya benar-benar membenci sinetron yang membodohi bangsa ini

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts All Time